Menyusuri Sungai Cigenter, Ujung Kulon



Perahu kayu melaju perlahan di aliran sungai dengan tenang. Debur ombak lautan perlahan hilang di belakang kami. Dua perahu panjang dikayuh perlahan menyusuri muara Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Sinar matahari yang menyilaukan di tepi pantai kini sesekali mengintip dari balik dedaunan pepohonan rindang yang tumbuh menjorok ke sungai yang berair keruh itu. Sunyi dan tenang. Hanya kicauan burung yang terdengar. Bersama para pemenang lomba poster badak (Firman, Daud, Yolly, dan Ronald), Davina Hariadi: supporter WWF Indonesia, Aji Santoso dari WWF dan Dadan Subrata dari Yayasan Badak Indonesia, beberapa teman wartawan juga mengikuti tur ke Ujung Kulon. Kami tak berharap banyak melihat kelebat bayangan badak. Suasana Ujung Kulon yang mengagumkan sudah cukup buat kami.
Perahu menepi

Kami singgah di Cidaun, padang rumput buatan yang terletak tepat di tepian sungai. Padang rumput ini dibuat khusus untuk banteng dan herbivora lainnya. Tapi pagi itu tak satupun yang terlihat. Ada menara pandang di ujung padang rumput. Kami melonggok di jendelanya yang luas. Beberapa titik kemerahan nampak bergerak-gerak di kejauhan. Banteng betina! Karena yang jantan pasti berwarna hitam kelam. Melalui binokuler, sosok-sosok banteng yang sedang asyik merumput mulai terlihat. Banteng-banteng betina mengunyah rerumputan segar sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Sementara banteng-banteng muda berlarian disekitarnya, melompat-lompat dan salin adu kepala. Sayang jaraknya terlalu jauh untuk mengabadikan dalam kamera, apalagi kamera digitalku yang zoom-nya terbatas. Hanya Daus, dari National Geographic Indonesia (NGI Travel), yang berhasil memotret kawanan sapi liar itu. 
Banteng, menyembul dari balik semak-semak

Padang rumput
Kami masih menunggu perahu lainnya untuk memulai perjalanan. Tita dari Jakarta Globe mulai sibuk mewawancarai kami, sementara Rony sibuk dengan alat perekamnya. Gagal mendekati kawanan banteng yang keburu mencium kedatangan kami, perjalanan air pun berlanjut. Hutan terlihat tenang. Pohon-pohon nipah menyambut kami, tumbuh berjajar seperti sepasukan prajurit berbaris. Daun-daunnya yang lebar memayungi sungai dari sengatan matahari. Akar-akar pepohonan menjulur ke dalam air seperti kaki-kaki raksasa. Tiba-tiba raja udang dan kirik-kirik muncul dari semak-semak dan terjun ke dalam air menyergap serangga. Tak terlihat binatang besar seekor pun. Tetapi bekas-bekas kaki badak bertebaran. Seekor ular sanca yang kekenyangan tidur di atas dahan. Kadang-kadang ada buaya di sini, celoteh Iwan. Tapi sang raja air nampaknya enggan menampakkan diri hari ini. 
Iwan dari WWF sibuk berceloteh tentang berbagai hal tentang Ujung Kulon. Lelaki ini punya banyak pengalaman dengan penyelamatan badak di taman nasional ini. Hanya di taman nasional ini badak jawa tersisa. Sebagian kecil terisolir di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Di tempat lainnya tinggal nama dan mitosnya yang dikenang. Populasi badak jawa terbesar memang di taman nasional ini. Itu pun hanya berkisar 50-an ekor. WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerja sama melestraikan badak jawa. Kini kehidupan badak jawa dapat dimonitor dengan kamera dan video tersembunyi. Lambat laun kehidupan badak yang masih misterius mulai terkuak. Berbagai tingkap polah badak kini bisa diintip. Bahkan anak-anak badak pun mulai sering nampang di depan video tersembunyi. Satu video sempat dihajar induk badak yang marah. 
Iwan dan Pohon Langkap

Sungai yang kami susuri makin menyempit hingga tak bisa lagi dilewati perahu. Kami melompat ke daratan, turun ke dua sungai kecil sebelum sampai di kolam mandi badak. Badak suka berkubang di lumpur. Meski sang empunya tak kelihatan batang culanya, jejak kaki dan bekas gesekan tubuh besarnya tercetak jelas di lumpur. Sisi-sisi tempat berkubang itu rata, mungkin bekas badan badak saat berguling-guling di lumpur.  Sayang kami tak sempat mengunjungi kamera tersembunyi. Letaknya terlalu jauh, ujar Iwan. Akhirnya kami hanya berkeliling dan melihat pohon langkap. Pohon tinggi ini dianggap biang keladi kemunduran badak. Pertumbuhannya yang tak terkendali mendesak pepohonan pakan badak alami. Badak bisa mati kelaparan. Pengelola taman pun berusaha keras menertibkan pertumbuhan sang oknum pohon liar. 
Nampang sejenak
Kubangan badak

”Paling tidak kita perlu tinggal sebulan untuk punya kesempatan melihat badak,” kata Aji menghibur. "Itupun harus selalu bergerak mengikuti jejak badak," imbuhnya. Cerita-cerita tentang perjumpaan dengan badak oleh Iwan juga cukup menghibur. Sekarang, menemukan jejak badak sudah lebih dari cukup membayangkan sang mamalia langka itu. Perahupun membelah sungai kembali ke muara. Ombak mulai pasang saat kami mendarat di pasir pantai. Di kejauhan, karang-karang menyembul dari permukaan air laut yang beriak. Di sinilah foto legendaris badak jawa yang dibidik Alain Compost diambil. Sayang tak ada badak hari ini. Tapi Peucang dan rusa-rusa setengah liar di Handeleum sudah menunggu kami. Mungkin lain kali, pikirku.


Previous
Next Post »

6 comments

Click here for comments
YENI SAHNAZ
admin
8:29 AM ×

Tuhan terimakasih telah lahirkan aku di bumi indonesia yg indah permai. Tapi apa yang akan kita wariskan pada anak cucu bila kini semakin banyak orang terpacu merusak alam karena keserakahan yg tiada pernah terpuaskan?

Indah sekali foto-foto dan narasinya. Bukukan mas Koen biar saya bisa cerita ke anak cucu.

Reply
avatar
koensetyawan
admin
10:21 AM ×

Terima kasih Mbak. Saya lagi menulis sejarah badak jawa terutama yang di Ujung Kulon dengan orang WWF

Reply
avatar
Mirza Sharz
admin
9:43 PM ×

Hallo mbak Koensetyawan, salam kenal..

Saya suka sama gaya bahasa dan kwalitas gambar2 nya. Boleh gak saya pajang foto2 mbak di blog saya? (dengan credit title tentu).

Salam lestari dari saya orang Ujungkulon yang tinggal di Bekasi

Reply
avatar
koensetyawan
admin
9:49 PM ×

Boleh silakan. Tapi saya laki-laki lho hehehe

Reply
avatar
12:03 AM ×

He he he... sorry salah ketik 'mas'..

Reply
avatar
3:17 PM ×

Sejak domain co.cc disuspend Google blog ekowisata Ujungkulon kembali ke domain default nya. Tak lama setelah pergantian pengurus Kagum, saya resign dari Kagum dan menjual blog Ekowisata Ujungkulon ke blogger lain.
Sebagai gantinya saya buat blog Ekowisata Ujungkulon versi terbaru..

Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment