

Perahu menepiKami singgah di Cidaun, padang rumput buatan yang terletak tepat di tepian sungai. Padang rumput ini dibuat khusus untuk banteng dan herbivora lainnya. Tapi pagi itu tak satupun yang terlihat. Ada menara pandang di ujung padang rumput. Kami melonggok di jendelanya yang luas. Beberapa titik kemerahan nampak bergerak-gerak di kejauhan. Banteng betina! Karena yang jantan pasti berwarna hitam kelam. Melalui binokuler, sosok-sosok banteng yang sedang asyik merumput mulai terlihat. Banteng-banteng betina mengunyah rerumputan segar sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Sementara banteng-banteng muda berlarian disekitarnya, melompat-lompat dan salin adu kepala. Sayang jaraknya terlalu jauh untuk mengabadikan dalam kamera, apalagi kamera digitalku yang zoom-nya terbatas. Hanya Daus, dari National Geographic Indonesia (NGI Travel), yang berhasil memotret kawanan sapi liar itu.
Banteng, menyembul dari balik semak-semak
Padang rumputIwan dari WWF sibuk berceloteh tentang berbagai hal tentang Ujung Kulon. Lelaki ini punya banyak pengalaman dengan penyelamatan badak di taman nasional ini. Hanya di taman nasional ini badak jawa tersisa. Sebagian kecil terisolir di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Di tempat lainnya tinggal nama dan mitosnya yang dikenang. Populasi badak jawa terbesar memang di taman nasional ini. Itu pun hanya berkisar 50-an ekor. WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerja sama melestraikan badak jawa. Kini kehidupan badak jawa dapat dimonitor dengan kamera dan video tersembunyi. Lambat laun kehidupan badak yang masih misterius mulai terkuak. Berbagai tingkap polah badak kini bisa diintip. Bahkan anak-anak badak pun mulai sering nampang di depan video tersembunyi. Satu video sempat dihajar induk badak yang marah.
Iwan dan Pohon LangkapSungai yang kami susuri makin menyempit hingga tak bisa lagi dilewati perahu. Kami melompat ke daratan, turun ke dua sungai kecil sebelum sampai di kolam mandi badak. Badak suka berkubang di lumpur. Meski sang empunya tak kelihatan batang culanya, jejak kaki dan bekas gesekan tubuh besarnya tercetak jelas di lumpur. Sisi-sisi tempat berkubang itu rata, mungkin bekas badan badak saat berguling-guling di lumpur. Sayang kami tak sempat mengunjungi kamera tersembunyi. Letaknya terlalu jauh, ujar Iwan. Akhirnya kami hanya berkeliling dan melihat pohon langkap. Pohon tinggi ini dianggap biang keladi kemunduran badak. Pertumbuhannya yang tak terkendali mendesak pepohonan pakan badak alami. Badak bisa mati kelaparan. Pengelola taman pun berusaha keras menertibkan pertumbuhan sang oknum pohon liar.
Nampang sejenak
Kubangan badak


































