Tuesday, October 13, 2009

Teori Giganto-Bigfoot?


Dalam Komik Tintin di Tibet, Tintin berpetualang ke Himalaya dan mengunjungi atap dunia untuk menyelamatkan sahabatnya, Chang. Pesawat yang ditumpangi Chang mengalami kecelakaan. Chang ternyata diselamatkan Yeti, primata berambut tebal yang menjadi mitos di kalangan penghuni pegunungan tertinggi di dunia itu.
Mitos tentang makluk mirip kera dan manusia ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Di berbagai belahan dunia makluk ini dikenal dengan banyak nama, Yeren, bigfoot, sasquatch, ngui rung, orang pendek dan batutut. Ratusan orang mengaku masih menjumpainya di hutan-hutan atau daerah-daerah terpencil. Seringkali digambarkan berjalan tegak seperti manusia dengan wajah mirip kera dan rambut panjang. Grover Kranz, seorang palaeoanthropolog dari Amerika Serikat percaya semua kepercayaan itu bermula dari Gigantopithecus, primata terbesar yang tulang belulangnya ditemukan pertama kali oleh Gustav von Koenigswald di Cina. Tidak seperti kebanyakan orang yang menganggap makluk berambut misterius itu sebagai keturunan Austrolophitecus, Homo erectus atau Neanderthal , Kranz justru yakin dengan teorinya sendiri Bigfoot-Giganto Theory. Menurutnya makluk-makluk itu sebenarnya keturunan terakhir dari Gigantopithecus yang berhasil selamat hingga masa modern. Teorinya menyatakan penampilan giganto tak jauh berbeda dengan bigfoot, yaitu berjalan dengan dua kakinya. Pendapatnya bertabrakan dengan para ilmuwan yang percaya giganto tak ubahnya mirip primata raksasa yang berjalan dengan keempat kakinya. Maklumlah, binatang purba ini termasuk ponginae. Sepupu terdekatnya yang masih bisa kita jumpai adalah orangutan. Mungkin giganto lebih mirip orangutan raksasa yang benyak berkeliaran di bawah pohon.
Novel giganto menampilkan tokoh kera raksasa, Gigantopithecus, sebagai misteri masa lalu berdasarkan temuan-temuan ilmuwan terkini lengkap dengan adonan bumbu petualangan dan persahabat dua makluk yang berbeda spesies dan waktu. Baca petualangannya dan nikmati sensasinya.

Tuesday, September 01, 2009

Giganto


Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya Novel Giganto, Primata Purba di Jantung Borneo, terbit juga. Penerbitnya Edelweiss, Lini penerbitan Iiman. Novel ini adalah novel fiksi ilmiah berlatar belakang palaentologi.

Kisahnya tentang ekspedisi pencarian untuk melacak keberadaan seorang peneliti orangutan yang hilang di rimba Kalimantan. Ternyata mereka harus berhadapan dengan makluk legenda purba yang menghantui rimba borneo selama ribuan tahun. Kini tim pencari itu bukan hanya harus menemukan sang peneliti, tetapi juga menyelamatkan diri dari serangan makluk raksasa misterius dari masa lalu.

Sinopsis bisa dibaca di:


Friday, August 14, 2009

Gelundung Cisarua


Desa Parigi Desa Cisarua Kecamatan Nanggung terletak di kaki Halimun, berdiri persis di sisi jalan yang naik turun. Bersama rombongan peserta International Conference on Education of Sustainable Development, kami menyusuri jalan sempit berliku menuju kampung. Hari ini kami melihat upaya pendampingan yang dilakukan teman-teman RMI (Rimbawan Muda Indonesia) mendampingi masyarakat Desa Cisarua. Dipandu dua orang guru SD Parigi, kami menyusuri kelokan-kelokan sempit. Suara gulundu berdrik-drik dari balik rumpun pisang dan anyaman bambu. Desa ini memang salah satu tempat yang mengolah bijih besi dari batu-batuan yang digali di Pongkor, salah satu lokasi penambangan emas tradisional di kawasan Halimun.

Seorang lelaki tanpa alas kaki terbenam dalam kubangan lumpur, memindahkan karung-karung berisi batu dan tanah yang mengandung emas ke dalam tabung-tabung gelundu dengan tangan kosong. Perlu 3 hingga 9 jam untuk memisahkan biji-biji emas dari batu pengikatnya. itupun tak bisa diprediksi apakah semua batu-batuan itu mengandung emas atau tidak. Tapi kilau emas pulalah yang membuat warga desa rela bekerja keras membeli berkarung-karung tanah dan batuan dari para penambang, memimpikan rejeki ratusan juta rupiah masuk ke kantong. Kegiatan pengolahan emas juga memikat juga para pemuda dan buruh tani, meninggalkan kebun-kebunnya demi rejeki emas. Demam emas dipicu dengan penambangan emas oleh PT. Aneka Tambang pada era 1990-an. Seiring dengan berjalannya waktu, para penambang rakyat mengendus peluang mendapatkan remah-remah emas dari perusahaan besar itu. Maka demam emas pun dimulai. Ratusan orang berbondong-bondong mengadu nasib, bahkan seringkali mempertaruhkan nyawa, menggali perut bumi. Desa Cisarua salah satu desa yang menangkap peluang demam emas itu untuk memisahkan biji emas dari batuan.
Suara-suara gelundung yanberderik-derik layaknya menjadi irama kehidupan desa ini. karung-karung batuan dan tanah mengandung emas bertumpuk disisi mesin. Sementara sisa air pembilas lumpur menggenang di dalam lobang-lobang galian. Airnya keruh kecoklatan. Tapi bukan hanya penampilannya yang tak sedap dipandang, bahaya lain mengintip dari balik kilau emas. Mercuri atau air raksa yang digunakan untuk mengikat biji emas membahayakan para pekerja. Uapnya bisa terhirup saluran pernapasan. Mercuri juga terlarut dalam air dan meresap dalam tanah karena kolam-kolam pembuangan tak diperkuat beton. Keengganan pekerja menggunakan masker, sepatu dan sarung tangan, memperbesar resiko terpapar bahan berbahaya ini. Tapi apa mau dikata, impian akan keuntungan menggiurkan telah membutakan orang akan bahaya yang mengancam bukan hanya bagi diri mereka sendiri tapi juga orang-orang disekitarnya. Apalagi lokasi gurundung sangat berdekatan dengan pemukiman. Bahkan jarak antar gurundung tak terlalu jauh. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, racun raksa meresap ke bumi Cisarua, membekab korbannya yang tak mempedulikan kehadirannya, bersanding bersama impian yang meninabobokan penghuninya.

Friday, July 03, 2009

Menyusuri Sungai Cigenter, Ujung Kulon



Perahu kayu melaju perlahan di aliran sungai dengan tenang. Debur ombak lautan perlahan hilang di belakang kami. Dua perahu panjang dikayuh perlahan menyusuri muara Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Sinar matahari yang menyilaukan di tepi pantai kini sesekali mengintip dari balik dedaunan pepohonan rindang yang tumbuh menjorok ke sungai yang berair keruh itu. Sunyi dan tenang. Hanya kicauan burung yang terdengar. Bersama para pemenang lomba poster badak (Firman, Daud, Yolly, dan Ronald), Davina Hariadi: supporter WWF Indonesia, Aji Santoso dari WWF dan Dadan Subrata dari Yayasan Badak Indonesia, beberapa teman wartawan juga mengikuti tur ke Ujung Kulon. Kami tak berharap banyak melihat kelebat bayangan badak. Suasana Ujung Kulon yang mengagumkan sudah cukup buat kami.
Perahu menepi

Kami singgah di Cidaun, padang rumput buatan yang terletak tepat di tepian sungai. Padang rumput ini dibuat khusus untuk banteng dan herbivora lainnya. Tapi pagi itu tak satupun yang terlihat. Ada menara pandang di ujung padang rumput. Kami melonggok di jendelanya yang luas. Beberapa titik kemerahan nampak bergerak-gerak di kejauhan. Banteng betina! Karena yang jantan pasti berwarna hitam kelam. Melalui binokuler, sosok-sosok banteng yang sedang asyik merumput mulai terlihat. Banteng-banteng betina mengunyah rerumputan segar sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Sementara banteng-banteng muda berlarian disekitarnya, melompat-lompat dan salin adu kepala. Sayang jaraknya terlalu jauh untuk mengabadikan dalam kamera, apalagi kamera digitalku yang zoom-nya terbatas. Hanya Daus, dari National Geographic Indonesia (NGI Travel), yang berhasil memotret kawanan sapi liar itu. 
Banteng, menyembul dari balik semak-semak

Padang rumput
Kami masih menunggu perahu lainnya untuk memulai perjalanan. Tita dari Jakarta Globe mulai sibuk mewawancarai kami, sementara Rony sibuk dengan alat perekamnya. Gagal mendekati kawanan banteng yang keburu mencium kedatangan kami, perjalanan air pun berlanjut. Hutan terlihat tenang. Pohon-pohon nipah menyambut kami, tumbuh berjajar seperti sepasukan prajurit berbaris. Daun-daunnya yang lebar memayungi sungai dari sengatan matahari. Akar-akar pepohonan menjulur ke dalam air seperti kaki-kaki raksasa. Tiba-tiba raja udang dan kirik-kirik muncul dari semak-semak dan terjun ke dalam air menyergap serangga. Tak terlihat binatang besar seekor pun. Tetapi bekas-bekas kaki badak bertebaran. Seekor ular sanca yang kekenyangan tidur di atas dahan. Kadang-kadang ada buaya di sini, celoteh Iwan. Tapi sang raja air nampaknya enggan menampakkan diri hari ini. 
Iwan dari WWF sibuk berceloteh tentang berbagai hal tentang Ujung Kulon. Lelaki ini punya banyak pengalaman dengan penyelamatan badak di taman nasional ini. Hanya di taman nasional ini badak jawa tersisa. Sebagian kecil terisolir di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Di tempat lainnya tinggal nama dan mitosnya yang dikenang. Populasi badak jawa terbesar memang di taman nasional ini. Itu pun hanya berkisar 50-an ekor. WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerja sama melestraikan badak jawa. Kini kehidupan badak jawa dapat dimonitor dengan kamera dan video tersembunyi. Lambat laun kehidupan badak yang masih misterius mulai terkuak. Berbagai tingkap polah badak kini bisa diintip. Bahkan anak-anak badak pun mulai sering nampang di depan video tersembunyi. Satu video sempat dihajar induk badak yang marah. 
Iwan dan Pohon Langkap

Sungai yang kami susuri makin menyempit hingga tak bisa lagi dilewati perahu. Kami melompat ke daratan, turun ke dua sungai kecil sebelum sampai di kolam mandi badak. Badak suka berkubang di lumpur. Meski sang empunya tak kelihatan batang culanya, jejak kaki dan bekas gesekan tubuh besarnya tercetak jelas di lumpur. Sisi-sisi tempat berkubang itu rata, mungkin bekas badan badak saat berguling-guling di lumpur.  Sayang kami tak sempat mengunjungi kamera tersembunyi. Letaknya terlalu jauh, ujar Iwan. Akhirnya kami hanya berkeliling dan melihat pohon langkap. Pohon tinggi ini dianggap biang keladi kemunduran badak. Pertumbuhannya yang tak terkendali mendesak pepohonan pakan badak alami. Badak bisa mati kelaparan. Pengelola taman pun berusaha keras menertibkan pertumbuhan sang oknum pohon liar. 
Nampang sejenak
Kubangan badak

”Paling tidak kita perlu tinggal sebulan untuk punya kesempatan melihat badak,” kata Aji menghibur. "Itupun harus selalu bergerak mengikuti jejak badak," imbuhnya. Cerita-cerita tentang perjumpaan dengan badak oleh Iwan juga cukup menghibur. Sekarang, menemukan jejak badak sudah lebih dari cukup membayangkan sang mamalia langka itu. Perahupun membelah sungai kembali ke muara. Ombak mulai pasang saat kami mendarat di pasir pantai. Di kejauhan, karang-karang menyembul dari permukaan air laut yang beriak. Di sinilah foto legendaris badak jawa yang dibidik Alain Compost diambil. Sayang tak ada badak hari ini. Tapi Peucang dan rusa-rusa setengah liar di Handeleum sudah menunggu kami. Mungkin lain kali, pikirku.


Saturday, March 07, 2009

Ulang Tahun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Seminggu belakangan biasanya bangun agak molor. Maklum semalaman begadang bikin ilustrasi. Tapi hari Jum’at kemarin terpaksa nggak bisa bermolor-molor ria. Pukul 04.30 sudah harus bangun dan ngetik naskah. Maka lahirlah cerita Harimau yang takut mandi. Inspirasinya sebenarnya berasal dari salah satu buku Winnie the Pooh di Disney, tentang harimau yang kehilangan lorengnya. Tak sempat membaca dua kali, naskah segera disimpan dalam flash disc dan siap cabut ke kantor Matoa. Hari ini Matoa punya gawe. Bukan Matoa sebenarnya yang punya hajat, melainkan Taman Nasional Gede Pangrango. Matoa bertanggung jawab mengisi acara pada perhelatan ultah taman nasional itu. Taman Nasional yang berulang tahun ke 29 ini berlokasi di antara 3 kabupaten: Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Di sinilah bermula mata air yang membasahi Sungai Citarum, Ciliwung dan Cimandiri. Seperti namanya, taman nasional ini memang punya dua puncak gunung, Gunung Gede dan Pangrango. Hutan pegunungan yang mendominasi wilayah ini merupakan rumah dari berbagai spesies langka seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Ajag, macan tutul, kantong semar, dan berbagai jenis anggrek. Jaraknya yang sangat dekat dengan ibukota negara tak pelak menjadikannya kawasan hutan tropis yang paling dekat dengan ibu kota. Tak heran taman nasional ini menjadi tujuan kunjungan wisata berbagai wisatawan.

Permainan

Tari dan nyanyi

Dalam sekejab bersama kru Matoa, aku sudah berada di dalam mobil yang dipacu di jalanan berkelok-kelok menuju Cipanas. Acara kami mulai berlangsung siang setelah Sholat Jum’at. Jadi masih punya waktu santai, sarapan dan melihat-lihat stan lainnya. Di dalam studio, acara resmi sedang berlangsung dengan khidmat dan monoton. Sedikit membosankan, terdiri atas acara pemutaran film, diskusi dan dilanjutkan dengan kunjungan di seputar lokasi kantor Taman Nasional Gede Pangrango untuk menengok mikrohydro di samping gedung taman nasional.

Stan JICA, memamerkan benda-benda daur ulang

Pesta anak sesungguhnya tiba saat puluhan bocah dari SD di sekitar taman nasional, Bogor dan Bahkan dari Benhil, Jakarta mulai merangsek memasuki gedung. Celoteh kanak-kanak dan teriakan guru-guru menandai berakhirnya acara seremonial yang serba formal. Bertempat di hall gedung kantor taman nasional yang lega, pertunjukkan pun dimulai. Berbagai SD menampilkan kebolehannya menyanyi, main siter, menari bahkan melawak. Yang menarik ada pertunjukkan musik dengan bahan bekas. Bukan hanya suara yang unik yang keluar dari potongan paralon, pipa besi, kaleng bekas biskuit dan galon air, tetapi tingkah polah para pemainnya yang bebas, bergembira dan nakal membuat suasana menjadi meriah.

Band bahan bekas. Seru!

Para kru

Giliranku sampai di pertengahan acara. Karena temanya harimau, krus Matoa mau bersusah payah menggotong awetan harimau sumatera dari lantai atas ke hall. Maka jadilah awetan harimau menjadi saksi bisu, story telling yang diciptakan dengan terburu-buru. Bocah-bocah pun bersedia meluangkan waktunya membentuk lingkaran rapat dan mendengarkan dongeng modern tentang harimau yang tak suka mandi. Waktunya terlalu singkat dan ini pengalaman pertamaku membacakan dongeng secara live. Tapi senyuman cerah, tawa lepas, tatapan mata ingin tahu dan mulut yang sedikit terbuka memberi kesan tersendiri. Ketika dongeng usai, Mas Hadi yang sempat mengabadikan momen itu dengan tersenyum memamerkan jepretan kameranya. Di foto itu nampak dua anak yang melongo termangu mendengarkan cerita. Lumayan berhasil. Rasa kantuk pun terbayar tuntas.

Wednesday, February 18, 2009

Diskusi Buku Badak di Gramedia Botani Square Bogor

Persiapan acara

Persiapan suvenir

Jam belum menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi loby Gramedia, Botani Square, Bogor, sudah dipenuhi anak-anak. Mereka adalah para peserta diskusi buku Buku Badak dan penyu Seri Binatang Langka Indonesia terbitan Elex Media Komputindo. Ketika Mbak Ika memberikan aba-aba untuk masuk ke ruangan, toko buku yang pagi itu masih lengang tiba-tiba diramaikan dengan celoteh anak-anak. Dengan rapi mereka duduk beralaskan karpet di salah satu sudut toko buku gramedia yang pagi itu disulap menjadi ruang diskusi. Tepat di sebelah kiri depan, terpampang layar putih yang menampilkan gambar badak putih Afrika, badak paling kondang yang paling dikenal oleh anak-anak.
Mbak Ika mulai woro-woro
In action bersama Kang Dede

Pemutaran slide

ketika kami mulai menampilkan slide-slide badak yang lain, banyak juga yang tak yakin ada lebih dari satu jenis badak di dunia. Pertanyaan, celoteh lucu dan komentar spontan selama acara berlangsung menjadi bumbu yang meramaikan acara diskusi itu. Dipandu oleh Mbak Ika dan Kang Dede dan didukung oleh para punggawa Forum Badak Indonesia, Yayasan Badak Indonesia dan rekan-rekan dari UNiversitas Negeri Jakarta serta Forum Satwa Liar, IPB, acara berlangsung meriah.
Membahas slide badak

Film-film tentang konservasi badak sumatera bergantian diputar, memunculkan tawa, keheranan dan kekaguman. Apalagi saat ditampilkan seekor badak yang buang air di semak-semak. Sontak berbagai komentar muncul. Tapi paling tidak reaksi spontan itu bisa menjadi jalan masuk bagi kami untuk melakukan kampanye.
On the Spot

Game meriah

Tim pemeriah

Acara diskusi buku badak sendiri sebenarnya direncanakan berlangsung 4 hari. Tetapi karena berbagai masalah, hanya dua hari efektif yang terlaksana. Mungkin juga semacam pelajaran berharga bagi kami dan Gramedia yang sebelumnya belum pernah menyelenggarakan acara serupa. Tapi respon pengunjung positif. Pada hari pertama, terjadi kesalahpahaman pada sekolah yang diundang. Sekolah Dasar Regina Pacis tak menghadiri undangan, tetapi seorang gurunya yang hadir bahkan mengundang kami mengadakan acara di sekolahnya. Akhirnya kami melakukan acara on the spot saja. Dan anak-anak yang kebetulan berkunjung ke Gramedia, mau meluangkan waktunya untuk melongo dan menatap gambar-gambar badak. Sesaat kemudian mereka mulai berebut memainkan game yang digelar. Tambahan lagi, ide undangan sekolah disepakati oleh pihak TB. Gramedia untuk melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Tantangan lain yang harus kami jawab dengan penuh semangat. Go Rhino, go!

Friday, February 06, 2009

Batman dan badak jawa

Sumber: DC Universe

Badak jawa jarang sekali ditampilkan dalam buku apalagi komik. Tapi di Komik Batman terbitan Januari 2009 (Batman #685), badak jawa muncul. Meskipun namanya badak jawa, badak ini pernah tersebar di Indocina hingga Sumatera dan Jawa. Kini badak ini hanya hidup di Ujung Kulon di Banten, Indonesia dan sebagian kecil Vietnam. Dalam komik ini yang ditulis oleh Paul Dini dan digambar oleh duo Dustin Nguyen dan Derek Fridolfs, badak jawa di vietnamlah yang diceritakan. Sekelumit adegan menampilkan para penyelundup binatang langka bersama musuh besar Batman: Catwoman. Tentu sebuah paduan yang unik: Batman dan badak jawa.