Friday, July 03, 2009

Menyusuri Sungai Cigenter, Ujung Kulon



Perahu kayu melaju perlahan di aliran sungai dengan tenang. Debur ombak lautan perlahan hilang di belakang kami. Dua perahu panjang dikayuh perlahan menyusuri muara Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Sinar matahari yang menyilaukan di tepi pantai kini sesekali mengintip dari balik dedaunan pepohonan rindang yang tumbuh menjorok ke sungai yang berair keruh itu. Sunyi dan tenang. Hanya kicauan burung yang terdengar. Bersama para pemenang lomba poster badak (Firman, Daud, Yolly, dan Ronald), Davina Hariadi: supporter WWF Indonesia, Aji Santoso dari WWF dan Dadan Subrata dari Yayasan Badak Indonesia, beberapa teman wartawan juga mengikuti tur ke Ujung Kulon. Kami tak berharap banyak melihat kelebat bayangan badak. Suasana Ujung Kulon yang mengagumkan sudah cukup buat kami.
Perahu menepi

Kami singgah di Cidaun, padang rumput buatan yang terletak tepat di tepian sungai. Padang rumput ini dibuat khusus untuk banteng dan herbivora lainnya. Tapi pagi itu tak satupun yang terlihat. Ada menara pandang di ujung padang rumput. Kami melonggok di jendelanya yang luas. Beberapa titik kemerahan nampak bergerak-gerak di kejauhan. Banteng betina! Karena yang jantan pasti berwarna hitam kelam. Melalui binokuler, sosok-sosok banteng yang sedang asyik merumput mulai terlihat. Banteng-banteng betina mengunyah rerumputan segar sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Sementara banteng-banteng muda berlarian disekitarnya, melompat-lompat dan salin adu kepala. Sayang jaraknya terlalu jauh untuk mengabadikan dalam kamera, apalagi kamera digitalku yang zoom-nya terbatas. Hanya Daus, dari National Geographic Indonesia (NGI Travel), yang berhasil memotret kawanan sapi liar itu. 
Banteng, menyembul dari balik semak-semak

Padang rumput
Kami masih menunggu perahu lainnya untuk memulai perjalanan. Tita dari Jakarta Globe mulai sibuk mewawancarai kami, sementara Rony sibuk dengan alat perekamnya. Gagal mendekati kawanan banteng yang keburu mencium kedatangan kami, perjalanan air pun berlanjut. Hutan terlihat tenang. Pohon-pohon nipah menyambut kami, tumbuh berjajar seperti sepasukan prajurit berbaris. Daun-daunnya yang lebar memayungi sungai dari sengatan matahari. Akar-akar pepohonan menjulur ke dalam air seperti kaki-kaki raksasa. Tiba-tiba raja udang dan kirik-kirik muncul dari semak-semak dan terjun ke dalam air menyergap serangga. Tak terlihat binatang besar seekor pun. Tetapi bekas-bekas kaki badak bertebaran. Seekor ular sanca yang kekenyangan tidur di atas dahan. Kadang-kadang ada buaya di sini, celoteh Iwan. Tapi sang raja air nampaknya enggan menampakkan diri hari ini. 
Iwan dari WWF sibuk berceloteh tentang berbagai hal tentang Ujung Kulon. Lelaki ini punya banyak pengalaman dengan penyelamatan badak di taman nasional ini. Hanya di taman nasional ini badak jawa tersisa. Sebagian kecil terisolir di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Di tempat lainnya tinggal nama dan mitosnya yang dikenang. Populasi badak jawa terbesar memang di taman nasional ini. Itu pun hanya berkisar 50-an ekor. WWF Indonesia dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerja sama melestraikan badak jawa. Kini kehidupan badak jawa dapat dimonitor dengan kamera dan video tersembunyi. Lambat laun kehidupan badak yang masih misterius mulai terkuak. Berbagai tingkap polah badak kini bisa diintip. Bahkan anak-anak badak pun mulai sering nampang di depan video tersembunyi. Satu video sempat dihajar induk badak yang marah. 
Iwan dan Pohon Langkap

Sungai yang kami susuri makin menyempit hingga tak bisa lagi dilewati perahu. Kami melompat ke daratan, turun ke dua sungai kecil sebelum sampai di kolam mandi badak. Badak suka berkubang di lumpur. Meski sang empunya tak kelihatan batang culanya, jejak kaki dan bekas gesekan tubuh besarnya tercetak jelas di lumpur. Sisi-sisi tempat berkubang itu rata, mungkin bekas badan badak saat berguling-guling di lumpur.  Sayang kami tak sempat mengunjungi kamera tersembunyi. Letaknya terlalu jauh, ujar Iwan. Akhirnya kami hanya berkeliling dan melihat pohon langkap. Pohon tinggi ini dianggap biang keladi kemunduran badak. Pertumbuhannya yang tak terkendali mendesak pepohonan pakan badak alami. Badak bisa mati kelaparan. Pengelola taman pun berusaha keras menertibkan pertumbuhan sang oknum pohon liar. 
Nampang sejenak
Kubangan badak

”Paling tidak kita perlu tinggal sebulan untuk punya kesempatan melihat badak,” kata Aji menghibur. "Itupun harus selalu bergerak mengikuti jejak badak," imbuhnya. Cerita-cerita tentang perjumpaan dengan badak oleh Iwan juga cukup menghibur. Sekarang, menemukan jejak badak sudah lebih dari cukup membayangkan sang mamalia langka itu. Perahupun membelah sungai kembali ke muara. Ombak mulai pasang saat kami mendarat di pasir pantai. Di kejauhan, karang-karang menyembul dari permukaan air laut yang beriak. Di sinilah foto legendaris badak jawa yang dibidik Alain Compost diambil. Sayang tak ada badak hari ini. Tapi Peucang dan rusa-rusa setengah liar di Handeleum sudah menunggu kami. Mungkin lain kali, pikirku.


Saturday, March 07, 2009

Ulang Tahun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Seminggu belakangan biasanya bangun agak molor. Maklum semalaman begadang bikin ilustrasi. Tapi hari Jum’at kemarin terpaksa nggak bisa bermolor-molor ria. Pukul 04.30 sudah harus bangun dan ngetik naskah. Maka lahirlah cerita Harimau yang takut mandi. Inspirasinya sebenarnya berasal dari salah satu buku Winnie the Pooh di Disney, tentang harimau yang kehilangan lorengnya. Tak sempat membaca dua kali, naskah segera disimpan dalam flash disc dan siap cabut ke kantor Matoa. Hari ini Matoa punya gawe. Bukan Matoa sebenarnya yang punya hajat, melainkan Taman Nasional Gede Pangrango. Matoa bertanggung jawab mengisi acara pada perhelatan ultah taman nasional itu. Taman Nasional yang berulang tahun ke 29 ini berlokasi di antara 3 kabupaten: Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Di sinilah bermula mata air yang membasahi Sungai Citarum, Ciliwung dan Cimandiri. Seperti namanya, taman nasional ini memang punya dua puncak gunung, Gunung Gede dan Pangrango. Hutan pegunungan yang mendominasi wilayah ini merupakan rumah dari berbagai spesies langka seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Ajag, macan tutul, kantong semar, dan berbagai jenis anggrek. Jaraknya yang sangat dekat dengan ibukota negara tak pelak menjadikannya kawasan hutan tropis yang paling dekat dengan ibu kota. Tak heran taman nasional ini menjadi tujuan kunjungan wisata berbagai wisatawan.

Permainan

Tari dan nyanyi

Dalam sekejab bersama kru Matoa, aku sudah berada di dalam mobil yang dipacu di jalanan berkelok-kelok menuju Cipanas. Acara kami mulai berlangsung siang setelah Sholat Jum’at. Jadi masih punya waktu santai, sarapan dan melihat-lihat stan lainnya. Di dalam studio, acara resmi sedang berlangsung dengan khidmat dan monoton. Sedikit membosankan, terdiri atas acara pemutaran film, diskusi dan dilanjutkan dengan kunjungan di seputar lokasi kantor Taman Nasional Gede Pangrango untuk menengok mikrohydro di samping gedung taman nasional.

Stan JICA, memamerkan benda-benda daur ulang

Pesta anak sesungguhnya tiba saat puluhan bocah dari SD di sekitar taman nasional, Bogor dan Bahkan dari Benhil, Jakarta mulai merangsek memasuki gedung. Celoteh kanak-kanak dan teriakan guru-guru menandai berakhirnya acara seremonial yang serba formal. Bertempat di hall gedung kantor taman nasional yang lega, pertunjukkan pun dimulai. Berbagai SD menampilkan kebolehannya menyanyi, main siter, menari bahkan melawak. Yang menarik ada pertunjukkan musik dengan bahan bekas. Bukan hanya suara yang unik yang keluar dari potongan paralon, pipa besi, kaleng bekas biskuit dan galon air, tetapi tingkah polah para pemainnya yang bebas, bergembira dan nakal membuat suasana menjadi meriah.

Band bahan bekas. Seru!

Para kru

Giliranku sampai di pertengahan acara. Karena temanya harimau, krus Matoa mau bersusah payah menggotong awetan harimau sumatera dari lantai atas ke hall. Maka jadilah awetan harimau menjadi saksi bisu, story telling yang diciptakan dengan terburu-buru. Bocah-bocah pun bersedia meluangkan waktunya membentuk lingkaran rapat dan mendengarkan dongeng modern tentang harimau yang tak suka mandi. Waktunya terlalu singkat dan ini pengalaman pertamaku membacakan dongeng secara live. Tapi senyuman cerah, tawa lepas, tatapan mata ingin tahu dan mulut yang sedikit terbuka memberi kesan tersendiri. Ketika dongeng usai, Mas Hadi yang sempat mengabadikan momen itu dengan tersenyum memamerkan jepretan kameranya. Di foto itu nampak dua anak yang melongo termangu mendengarkan cerita. Lumayan berhasil. Rasa kantuk pun terbayar tuntas.

Wednesday, February 18, 2009

Diskusi Buku Badak di Gramedia Botani Square Bogor

Persiapan acara

Persiapan suvenir

Jam belum menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi loby Gramedia, Botani Square, Bogor, sudah dipenuhi anak-anak. Mereka adalah para peserta diskusi buku Buku Badak dan penyu Seri Binatang Langka Indonesia terbitan Elex Media Komputindo. Ketika Mbak Ika memberikan aba-aba untuk masuk ke ruangan, toko buku yang pagi itu masih lengang tiba-tiba diramaikan dengan celoteh anak-anak. Dengan rapi mereka duduk beralaskan karpet di salah satu sudut toko buku gramedia yang pagi itu disulap menjadi ruang diskusi. Tepat di sebelah kiri depan, terpampang layar putih yang menampilkan gambar badak putih Afrika, badak paling kondang yang paling dikenal oleh anak-anak.
Mbak Ika mulai woro-woro
In action bersama Kang Dede

Pemutaran slide

ketika kami mulai menampilkan slide-slide badak yang lain, banyak juga yang tak yakin ada lebih dari satu jenis badak di dunia. Pertanyaan, celoteh lucu dan komentar spontan selama acara berlangsung menjadi bumbu yang meramaikan acara diskusi itu. Dipandu oleh Mbak Ika dan Kang Dede dan didukung oleh para punggawa Forum Badak Indonesia, Yayasan Badak Indonesia dan rekan-rekan dari UNiversitas Negeri Jakarta serta Forum Satwa Liar, IPB, acara berlangsung meriah.
Membahas slide badak

Film-film tentang konservasi badak sumatera bergantian diputar, memunculkan tawa, keheranan dan kekaguman. Apalagi saat ditampilkan seekor badak yang buang air di semak-semak. Sontak berbagai komentar muncul. Tapi paling tidak reaksi spontan itu bisa menjadi jalan masuk bagi kami untuk melakukan kampanye.
On the Spot

Game meriah

Tim pemeriah

Acara diskusi buku badak sendiri sebenarnya direncanakan berlangsung 4 hari. Tetapi karena berbagai masalah, hanya dua hari efektif yang terlaksana. Mungkin juga semacam pelajaran berharga bagi kami dan Gramedia yang sebelumnya belum pernah menyelenggarakan acara serupa. Tapi respon pengunjung positif. Pada hari pertama, terjadi kesalahpahaman pada sekolah yang diundang. Sekolah Dasar Regina Pacis tak menghadiri undangan, tetapi seorang gurunya yang hadir bahkan mengundang kami mengadakan acara di sekolahnya. Akhirnya kami melakukan acara on the spot saja. Dan anak-anak yang kebetulan berkunjung ke Gramedia, mau meluangkan waktunya untuk melongo dan menatap gambar-gambar badak. Sesaat kemudian mereka mulai berebut memainkan game yang digelar. Tambahan lagi, ide undangan sekolah disepakati oleh pihak TB. Gramedia untuk melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Tantangan lain yang harus kami jawab dengan penuh semangat. Go Rhino, go!

Friday, February 06, 2009

Batman dan badak jawa

Sumber: DC Universe

Badak jawa jarang sekali ditampilkan dalam buku apalagi komik. Tapi di Komik Batman terbitan Januari 2009 (Batman #685), badak jawa muncul. Meskipun namanya badak jawa, badak ini pernah tersebar di Indocina hingga Sumatera dan Jawa. Kini badak ini hanya hidup di Ujung Kulon di Banten, Indonesia dan sebagian kecil Vietnam. Dalam komik ini yang ditulis oleh Paul Dini dan digambar oleh duo Dustin Nguyen dan Derek Fridolfs, badak jawa di vietnamlah yang diceritakan. Sekelumit adegan menampilkan para penyelundup binatang langka bersama musuh besar Batman: Catwoman. Tentu sebuah paduan yang unik: Batman dan badak jawa.

Tuesday, February 03, 2009

Bad monkeys di Way Kanan

Siamang

Raungan siamang di kejauhan bersahut-sahutan seperti kokok ayam jantan di kampung. Kami melompat ke atas mobil bak terbuka mengikuti mobil RPU (Rhino Protection Unit) berwarna gelap yang lebih dulu meninggalkan SRS. Hari ini tujuan kami, Way Kanan. Hanya beberapa ratus meter meninggalkan gerbang SRS, mobil berbelok ke kanan. Plang di kanan jalan bertuliskan: Way Kanan. Segera jalanan berbatu membuat tubuh bergoyang-goyang. Tak lama, jalanan berganti aspal mulus. Sulur-sulur pepohonan merambat diantara pepohonan dan semak-semak. Maklum, dulunya kawasan ini adalah bekas HPH. Kini hutan suksesi itu menjadi belukar lebat yang disukai satwa, termasuk badak dan kawanan gajah.


Menyusuri sungai

Tiba di Way Kanan, para kru RPU tak mau menunggu kami mengagumi tempat ini lebih lama. Mobil berhenti di ujung darmaga kecil. Sebuh kapal motor sudah menunggu kami. Dalam beberapa menit, kami berpelampung oranye, segera menyusuri sungai. Hutan di kanan kiri memberi sensasi tersendiri, seperti halnya burung-burung liar yang tiba-tiba terbang di depan hidung kami. Kirik-kirik pemakan lebah beterbangan di antara ranting meranggas, burung raja udang terjun ke dalam air dan menyambar ikan, sementara seekor bangau merah bengong di atas batang kayu lapuk. Sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Belum lagi para kru RPU yang rajin berceloteh tentang ini dan itu. Satuan ini khusus dibentuk untuk melindungi badak. Tapi pada prakteknya sebenarnya mereka melindungi apa saja yang harus dilindungi di taman nasional. Dengan dilengkapi senjata api, mereka siap baku hantam dengan para pembalak dan pemburu liar. Dan kasus perburuan badak pun menurun tajam.

Para kru kapal

Sungai itu meliuk-liuk seperti ular raksasa dan suara mesin kapal memecah kesunyian, melenyapkan kesempatan kami untuk bertemu dengan raja sungai: buaya muara. Tapi ada gantinya yang tak kalah menarik. Kami mengunjungi dua pos patroli. pos-pos yang lebih mirip shelter itu sangat sederhana. Terbuat dari kayu papan tanpa dinding, dengan tonggak-tonggak yang menyangga lantainya. Di sinilah para anggota RPU berhenti sejenak untuk bermalam dalam perjalanan patrolinya. Jejak-jejak harimau dan babi hutan memenuhi permukaan tanah di sekitar pos. Bisa dibayangkan ketika para anggota RPU menikmati kopi hangat, puluhan binatang hutan juga berkeliaran di sekitarnya.

Pos ronda

Jejak kaki harimau

Sebuah kamera tersembunyi dililit kawat besi yang kokoh menjadi tujuan berikutnya. Tapi yang lebih mengagumkan adalah jejak-jejak kaki satwa liar di sepanjang jalan. Harimau, gajah, badak, babi hutan dan beruang madu bertebaran dengan kotoran dan bekas cakaran di tanah. Mungkin pooh, piglet, huffalump dan tiger sedang berkeliaran, seloroh Willy, salah seorang peserta dan pemenang lomba poster. Jejak-jejak itu tercetak jelas di tanah yang lembek. Semalam pasti hujan turun. Mengagumi jejak seperti membayangkan yang empunya jejak berkeliaran bergantian di jalur yang sama. Bayangkan jika bertemu langsung dengan mereka. Melihat jejaknya saja mengagumkan, apalagi jika bertemu langsung.

Cangak merah

Trip sehari ini sungguh memuaskan dahaga keingintahuan kami. Tapi kejutan lain menunggu. Selepas turun dari perahu, tiba-tiba beberapa anggota RPU berlari ke arah mobilnya sambil berteriak marah. usut punya usut ternyata dua ekor monyet ekor panjang masuk ke dalam mobil RPU melalui kaca jendela yang sedikit terbuka. Sialnya mereka terkurung dan tak berhasil melarikan diri sebelum para pemilik mobilnya memergokinya. Saking takutnya seekor diantaranya buang air besar di jok depan. Sang oknum lainnya ngumpet di belakang rem, diam tak bergerak, berusaha sepenuhnya percaya para manusia tak akan bisa melihatnya. Monyet lainnya lebih apes lagi, tertangkap tangan dan meringkuk dalam genggaman petugas RPU yang gagah berani. Tanpa interograsi (karena tak ada gunanya), para pencoleng itu pun dilepaskan. Mereka kabur meninggalkan para anggota RPU yang geram dan marah. Rupanya para anggota RPU yang ditakuti para pemburu liar dan pembalak, masih sempat dikibuli sang monyet.

Oknum pencoleng

Sunday, January 25, 2009

Kembali ke SRS

Torgamba

Rosa

Menyusuri kandang badak

Akhirnya kesempatan mengunjungi SRS (Sumatran Rhino Sanctuary) lagi kesampaian. Kunjungan terdahulu rasanya kurang lengkap karena belum sempat menjenguk Andalas, badak kelahiran Cincinati Zoo. Bersama para pemenang lomba poster badak Rhino Care 2008, aku kembali ke Way Kambas. Masih dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan kekaguman yang sama. Kali ini bukan hanya Teji, sang babi hutan, yang menyapa, melainkan juga Si Cecep rusa sambar yang datang menyambut kedatangan kami. Karena sudah malam, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain ngobrol dan cabut ke kamar tidur.
Andalas

Paginya birdwatching dimulai. Meskipun dikenal dengan gajahnya karena ada Pusat Latihan Gajah , di manca negara Way Kambas lebih tenar karena keanekaragaman burungnya, sesuatu yang justru belum banyak dikenal oleh kita sendiri. Tapi berjalan kaki sebentar di sepanjang kandang badak sudah membuktikannya. Berbagai jenis burung termasuk srigunting ekor panjang dan alap-alap kecil malu-malu memamerkan bulu-bulunya di balik pepohonan. Sementara raungan siamang dan gemerisik kawanan beruk meramaikan perjalanan. Kandang itu sendiri luasnya 100 hektar, dibatasi aliran listrik di sekelilingnya, menimbulkan kesan seolah memasuki "Jurassic Park". Dan binatang yang ada di dalamnya meskipun bukan dari Era Jurassic, masih tergolong purba. Badak sumatera adalah badak terkecil sekaligus paling primitif. Dari kelima spesies badak yang masih hidup (badak putih dan hitam afrika, badak india dan badak jawa), binatang ini adalah yang paling panjang rambutnya, membuatnya selalu dihubung-hubungkan dengan badak berambut wol dari zaman es.
Pengamatan burung kamipun berselang-seling dengan pengamatan satwa lainnya: muncak yang melintas di kejauhan, siamang bergelantungan jauh di atas kepala kami dan babi hutan yang sibuk mengorek tanah dengan moncongnya yang kuat. Tetapi pertunjukan sesunguhnya adalah kelima badak sumatera di kandangnya masing-masing. Inilah badak kedua paling langka di dunia setelah badak jawa. Dan kami beruntung menyaksikannya karena tak ada tempat lainnya di Indonesia yang memaerkan badak ini. Hanya kebun binatang di Amerika Serikat sana yang menjadi rumah kedua badak gondrong ini.
Rosa, Andalas dan Torgamba menampakkan diri lebih dulu. Rosa, badak selebritis, muncul dari semak-semak, mendengus-dengus udara dan dengan cueknya melahap dedaunan di dekat pagar kandangnya, membiarkan kilatan blits kamera menghujaninya. Ia mengangguk-anggukkan kepala, memamerkan kunyahannya yang berisik, melirikkan matanya dan mengoyangkan badannya yang gemuk sebelum kembali ke hutan mengikuti keepernya. Andalas tak segenit Rosa. Badak sumatera kelahiran Cincinati Zoo ini memamerkan tubuhnya yang kekar, terbesar diantara badak lainnya di SRS, mondar-mandir di dalam kandangnya, memeriksa dengan telaten setiap batang besi hitam yang melindunginya dan dengan lenguhan ringan, melengos pergi dengan pongahnya. Torgamba sepertinya acuh dengan kedatangan kami. Ia mondar-mandir disekitar kandangnya, keluar ke pepohonan besar dan berjalan kembali ke kandangnya, berusaha membuktikan ia masih cukup bugar menjadi pejantan tangguh. Badak yang sempat kos di Inggris ini, termasuk angkatan pertama badak yang ditangkap di hutan bengkulu sebagai bagian proyek penangkaran badak sumatera. Ketiga sejawatnya menemui ajal, Torgamba bergeming kendati belum sekalipun menghasilkan keturunan.
Jeda sebentar diisi sarapan pagi. Kunjungan dilanjutkan dari atas mobil bak terbuka, melongok dua badak yang tersisa: Bina dan Ratu. Sang Ratu pun perlu diperiksa kondisi kesuburannya oleh Drh. Dedy. Mirip sapi, Ratu juga harus merelakan bagian terlarangnya diobok-obok. "Masih berpotensi, ujar Drh. Dedy sambil tertawa, melepaskan sarung tangannya yang panjang dan melepaskan ratu dari jepitan. Badak super buntet ini pun menatapkan matanya yang seperti manik-manik ke hadapan pengunjungnya. Tersesat di perkampungan penduduk dan kemudian diungsikan ke SRS, Ratu menjadi betina ketiga di SRS setelah Dusun dan Bina. Sayang Dusun sudah mati tua. Kini selain Ratu, badak betina lainnya adalah Bina dan Rosa.
Bina yang kekar berjalan dengan kaki-kakinya yang kekar, melongokkan wajahnya dari sela-sela besi kandang dan seskali memejamkan matanya yang dihinggapi lalt raksasa. Marcelius Adi, memungut salah satu lalatnya dan menunjukkannya kepada kami. Bukan main, lalat kebo, begitu biasanya dikenal, jauh lebih besar daripada lalat biasa. Lalat yang biasa diketmukan di sapi dan kerbau ternak itu memang masuk akal mengerubiti para badak,. Jarak SRS dengan perkampungan tak terlalu jauh. Karena itulah para dokter hewan di SRS rajin mengamatinya, bukan hanya pada badak tetapi juga pada ternak penduduk di sekitar taman nasional.
Kibasan ekor Bina yang buntung mengakhiri kunjungan hari ini. Dengan oleh-oleh puluhan foto menarik dan belasan pacet yang dengan kurang ajar memanfaatkan kelengahan dan diam-diam menghisap darah kami hingga badannya tambun. Di SRS, si rusa sambar dengan angkuhnya menatap mobil kami, sebentar, lalu dengan cuek melahap rerumputan segar. Ia sama sekali tak peduli ketika kami mengambil gambarnya. Bahkan dengan kenesnya membalikkan tubuhnya, memamerkan tanduknya yang baru tumbuh. Mungkin pikirnya, tak cuma badak yang bisa dikagumi.

Wednesday, January 14, 2009

Binatang Langka Indonesia


Seri : Binatang Langka Indonesia
Penulis dan ilustrasi: Koen Setyawan
Penerbit : Elex Media Komputindo (Grup Gramedia)

Tak banyak yang tahu, Indonesia adalah negara megadisversity terbesar kedua setelah Brazil. Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati (jenis-jenis makluk hidupnya) sangat melimpah. Tetapi seperti kutukan, kekayaan itu belum melahirkan kesejahteraan bagi sebagian besar rakyatnya. Serupa juga dengan Brazil dan Kongo, dua negara megadiversity lainnya, kekayaan alam tak juga mengangkat jutaan rakyat dari jurang kemiskinan. Yang terjadi justru kekayaan alam itu yang tergerogoti semakin parah. Spesies-spesies unik bergiliran mengalami kepunahan. Ironisnya tak jarang, sebagian sama sekali belum dikenal oleh sang empunya sendiri (baca: masyarakat). Pantaslah jika Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup, mengibaratkan orang Indonesia duduk di atas peti harta karun. Tapi sayangnya tak bisa mengetahui nilai harta karunnya karena tak punya kunci untuk membukanya.

Selama puluhan tahun kita dibuai oleh tembang mendayu tentang kekayaan nusantara. Kesuburan tanahnya, kehijauan hutannya dan keindahan binatangnya. Tapi tak sering kita coba meneliti detaik-detail harta karun kita. Segalanya seolah terlambat setelah satu demi satu harta itu tercerai berai atau diangkut ke seberang lautan. Buku ini mencoba mengisahkan sekelumit remah-remah kekayaan spesies binatang khas negeri ini, lengkap dengan segala permasalahannya. Harimau, badak, orangutan, beruang madu, penyu dan gajah hanyalah pembuka dan pemicu bagi kita semua untuk mulai menelisik keunikan, keindahan, keganjilan dan kemegahan alam yang dititipkan pada kita oleh Tuhan.

Seri ini terdiri atas 3 judul buku, masing-masing bertemakan 2 jenis binatang: Harimau dan orangutan, Penyu dan Badak, serta Gajah dan Beruang Madu. Dihiasi dengan foto-foto dan ilsutrasi menarik, buku ini mengajak pembaca mengenal binatang-binatang Indonesia yang mulai langka dan terancam punah. Penulisan buku-buku ini bekerja sama dengan YABI (Yayasan Badak Indonesia), BOS (Borneo Orangutan Survival), dan WCS (Wildlife Conservation Society).