Tuesday, June 05, 2012

Menikmati ketenangan Niigata


“Selamat datang di Niigata”, ujar Amin, seorang pria Palestina dengan bahasa Inggris yang lancar. Amin sudah lama tinggal di Jepang dan menguasai bahasa Inggris dan Jepang sama baiknya. Maklum, sebelumnya dia bekerja di project JICA di negara asalnya. Pagi itu dia dan Kazue Kasahara, keduanya staf ACAP (Asia Center for Air Pollution Research), menjemput kedatangan kami di Stasiun Niigata, Prefektur Niigata.
Kami baru saja turun dari Stasiun Kereta Niigata setelah menumpang Kereta Express Shinkansen selama 5 jam dari Stasiun Tokyo yang jaraknya 250 kilometer. Di dalam bus yang menjemput kami, beberapa peserta Workshop on Air Pollution sudah duduk dengan manis. Para peserta berasal dari 11 negara Asia plus Rusia. Namun, saat itu hanya peserta dari 9 negara yang ada di dalam bus, yaitu peserta dari Malaysia, Filipina, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Thailand, Cina, Laos. Dari Indonesia kami berenam, saya dan Purnomo Wiwoho dari Jaringan Pendidikan Lingkungan, Susy Sadikin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Yayah Komariah, kepala sekolah serta tiga siswa dari SDN Bantarjati 9, Bogor. Selama 4 hari sejak tanggal 27 Februari hingga 2 maret 2012 kami menghadiri undangan ACAP dalam workshop tahunan tentang pengembangan materi peningkatan kepedulian pada isu hujan asam.
Bus melaju perlahan di jalanan yang lengang, jauh sekali dengan hiruk pikuk Jakarta. Tumpukan salju teronggok di tepian jalan membentuk bukit-bukit kecil berwarna putih terang. ”Seperti es serut,” ujar anak-anak Bantarjati saat pertama kali memegangnya. Rumput-rumput kering berwarna kuning pucat menyembul dari balik salju. Untunglah cuaca tak terlalu dingin meskipun untuk ukuran orang Katulistiwa, begitu istilah Azri bin Alias peserta dari Malaysia, masih kelewat menusuk tulang. Beberapa siswi sekolah pun melenggang santai dengan rok mininya. Inilah kota kelahiran Ken Watanabe, aktor jepang yang kerab bermain dalam film-film Hollywood seperti The Last Samurai, Batman Begins dan Inception.

Terletak di Prefektur Niigata, Kota Niigata dipenuhi rumah-rumah kotak kecil diselingi gedung-gedung persegi sederhana yang menjulang di sana sini. Beberapa rumah mungil yang terselip diantara gedung-gedung jangkung, dihiasi pohon-pohon cemara mungil yang tumbuh mirip bonsai. Mobil-mobil kota (city car) mungil merayap dengan tertib di jalanan yang bersih. Pohon-pohon merangas memamerkan cabang-cabangnya yang telanjang, kontras dengan latar belakang putih salju. Di kejauhan, muncul stadion besar kebanggaan warga Niigata. Tohoku Denryoku atau dikenal sebagai Big Swan Stadium. Stadion yang memang bentuknya mirip angsa raksasa ini adalah salah satu stadion tempat dilaksanakannya pertandingan Piala Dunia 2002. 
Ada sedikit perubahan rencana, ujar Kasahara dan Amin kepada para peserta. Sebelumnya panitia merencanakan peserta langsung menuju Hotel Okura. Tetapi mendadak ada acara tambahan, mengunjungi Furusato Mura. Kompleks ini semacam museum miniatur Niigata. Di dalamnya dipamerkan sejarah Niigata sejak kota itu hanya sebuah kampung pertanian yang kecil hingga menjadi kota modern. Penyusunan koleksinya menarik. Dindingnya dipenuhi papan persegi empat yang sekaligus berfungsi sebagai kanvas lukis atau foto yang memamerkan berbagai kejadian di masa lalu dan cuplikan kebudayaan jepang. Misalnyanya festival layang-layang tradisional.
Di bagian dalamnya gedung itu mirip cerobong raksasa yang dikelilingi ruangan-ruangan pamer. Di bagian tengah yang cukup lega digantung berbagai benda seperti miniatur mobil dan karya seni termasuk layang-layang raksasa. Ruang-ruang pamer mengelilingi kolom raksasa itu. Di salah satu ruangan terdapat replika rumah jepang kuno yang ajaibnya diselingi dengan adegan orang-orang sungguhan dalam bentuk hologram. Replika lampu lalu lintas yang dijalankan secara manual diperagakan di salah satu ruangan. Ada juga patung petani tradisional lengkap dengan jaket dan sepatu tradisional yang terbuat dari jerami. Sayang kami tidak bisa berlama-lama di sini karena harus segera check in di Okura Hotel.
Namun, ada tambahan acara lagi. Setengah berlari memasuki bus yang dihela Amin, kami melaju ke Toki Messe. Toki Messe adalah pusat pertemuan besar, semacam pusat kebudayaan di Niigata. Gedung luas ini pernah menjadi tempat penyelenggaraan APEC tahun 2010. Di sinilah Eco Kids Conference dan Workshop Acid Deposition akan dilaksanakan.
Ada banyak ruangan pertemuan besar di gedung itu. Dua patung origami burung dari logam menyambut pengunjung di sisi eskalator. Dari balik dinding kaca raksasa kami bisa melihat Sungai Shinano yang bantarannya dipenuhi tumpukan salju. Kapal-kapal berlabuh di tepian sungai. Sementara di seberang sungai dipenuhi gedung-gedung jangkung. Sungai  ini adalah sungai terpanjang di jepang. Sungai Shinano memanjang meliuk-liuk dan bertemu dengan Jembatan Bandai, tepat di sebelah Hotel Okura, tempat kami menginap.
Niigata berarti laguna baru. Kota ini benar-benar memanjakan pejalan kaki. Jalannya yang lebar dihiasi dengan pedistrian yang lebar dan nyaman. Jalur pejalan kaki ini juga sekaligus menjadi jalur sepeda. Pera pengendara sepeda dapat mengayuh sepedanya dengan tenang tanpa takut dilanggar mobil atau motor. Di setiap perempatan terdapat lampu lalu lintas sehingga pejalan kaki dan pengedara sepeda dapat menyeberang dengan aman. Safety memang menjadi prioritas. Bahkan lobang galian pun dilengkapi dengan tiang-tiang pendek berlampu sehingga waktu malam tak ada orang yang terjatuh ke dalamnya.
Toko-toko pakaian, restoran kecil dan makanan tertata rapi. Di beberapa tempat terdapat selasar lebar dengan langit-langit tinggi. Lagi-lagi jalanan bersih dan nyaman. Beberapa pengendara sepeda melenggang dengan nyaman. Lampu-lampu antik berjajar rapi berbaris di depan toko-toko berhias kaca lebar yang memerkan koleksi terbarunya. Salah satu selasar yang kami singgahi dihiasi dengan patung-patung manga dari perunggu bertema baseball, salah satu olah raga favorit di Jepang.
Kuil-kuil tradisional kecil menjorok ke dalam seperti gang-gang buntu seperti membawa siapapun kembali ke zaman lampau. Tetapi begitu keluar dari gerbangnya, kita pun seperti kembali ke kota modern, lengkap dengan gedung-gedung, pertokoan dan lampu jalan yang terang-benderang. Tetapi percaya atau tidak produksi paling penting dari kota modern ini adalah pertanian. Beras Koshihikari yang sempat disajikan di hotel, adalah salah satu beras unggulan di Jepang. Selain beras, produk lainnya yang terkenal adalah mochi dan sake. Bagaimana pun juga, Niigata tetaplah kota pertanian yang tenang. Saat kami berjalan menyusuri pusat kota sekitar jam 9 malam dalam suhu dingin menggigit, toko-toko mulai tutup, jalanan lengang, menyisakan taksi-taksi yang berbaris di depan stasiun kota yang masih benderang.

Friday, April 27, 2012

The Wind in the Willows Kesederhanaan yang tak lekang oleh waktu


Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya.
Untaian kalimat itu mengalir dengan lancar dalam goresan pena Kenneth Grahame. Renungan Molly, sang tikus mondok, seperti mengungkapkan pemikiran mendalam tentang artinya pulang. Tokoh-tokoh dalam rekaan Grahame dalam The Wind in the Willows seolah pesonifikasi dari kehidupan sederhana masyarakat pedesaan. Dalam kasus Grahame adalah pedesaan di tepian sungai Thames dan Hutan Windsor, Inggris. Dengan kepiawaiannya, Grahame yang sangat terkenang dengan masa kecilnya di kampung halaman neneknya menggambarkan dengan indah kehidupan desa yang sederhana dan berbagai kejadian  kecil yang menyertainya. Lewat tokoh-tokohnya, Grahame mengungkapkan artinya persahabatan, kejujuran, kebersamaan dan kesetiakawanan. Sebuah cerita yang sangat sederhana tetapi menawan. Tak heran bukunya tetap dibaca hingga seratus tahun lebih setelah penerbitannya pada tahun 1908.
The Wind in the Willows menceritakan kehidupan di sepanjang sungai kecil di tepian hutan. Ada tikus sungai yang suka berperahu, tikus mondok yang mencoba bertualang jauh dari liangnya yang gelap, badger yang penyendiri tapi bijak dan katak yang cerewet, ceroboh, sombong dan suka lupa diri sekaligus jujur dan baik hati. Cerita ini bukan fabel murni karena masih ada tokoh-tokoh manusia seperti gadis puteri penjaga penjara, pemilik mobil yang mobilnya dijahili katak, dan pengembara gipsy yang membeli kuda curian sang katak. Grahame menggambarkan konflik sederhana antara keinginan mencoba sesuatu yang modern (dalam hal ini diwakili kehidupan kota kecil dan mobil) dan kerinduan mendalam untuk pulang ke kehidupan kampung yang damai (diceritakan dalam perebutan kembali kastil sang katak dari genggaman para weasel). The Wind in the Willows mewakili kegalauan industrialisasi yang menyerbu desa-desa di Inggris Raya pada era 1900-an. Tak seperti George Orwell yang menggambarkan fabelnya (Animal Farm) secara sinis, Grahame menceritakan kisahnya dengan bahasa kanak-kanak yang riang dan naif. Tanpa mengurangi sisi petualangan, Ia menggambarkan tokoh-tokohnya dalam ikatan dekat kekeluargaan pedesaan yang kental sambil menebarkan pluralisme dalam tokoh-tokohnya. Tak lupa Grahame juga menampilkan kesan mistis lewat penggambaran hutan di batas desa yang menyeramkan dan perjumpaan tikus tanah dan tikus air dengan pan, manusia setengah binatang dari mitologi Yunani kuno. Grahame menggambarkan perjumpaan itu dengan lembut sekaligus mendebarkan.
“Tikus tanah merasakan kekaguman yang luar biasa menerpanya. Rasanya seperti teror, tetapi bukan yang menyebabkan kepanikan, melainkan keajaiban serta kedamaian. Ia menundukkan kepala. Sesuatu yang agung berada sangat dekat dengan mereka..........”
The Wind in the Willows adalah kenangan masa kecil Grahame di kampung halaman neneknya saat ia dititipkan oleh ayahnya yang putus asa setelah kematian ibunya. Buku ini adalah buah petualangan masa kecilnya menyusuri sungai dan ilalang dan bergaul dengan para penduduk desa yang sederhana. Tapi Grahame juga memasukkan gambaran tentang putra tunggalnya, Alastair, dalam tokoh sang kodok yang suka bikin masalah tetapi setia kawan. Kelak sang putra tak sempat mengikuti jejaknya karena mati muda. Anak malang yang terlahir separuh buta itu ditemukan tewas di rel kereta api  menjelang ulang tahunnya yang ke dua puluh. Grahame yang tak bahagia menumpahkan semua impiannya tentang kehidupan desa yang ceria dan bahagia dalam bukunya. Bagi pembacanya, The Winds in the Willows adalah buah pena emas Grahame yang tak lekang oleh waktu,. Bagi Grahame sendiri buku ini adalah kisah hidupnya sendiri, impian yang tak tergapai dan kenangan yang membekas sangat dalam.
Sayangnya The Wind in the Willows yang begitu dikenal dalam dunia kesusasteraan Barat, kurang dikenal di sini. Maka penerbitan kembali oleh Mahda Books patut diacungi jempol. Meski pengerjaannya terkesan terlalu seadanya untuk karya sebesar ini, namun penterjemahnya mampu menuangkan kembali keindahan dan kesederhanaan Grahame dalam bercerita. Kenakalan sang katak yang menjadi tokoh yang paling mewarnai buku ini, tergambar dengan lugas. Hanya penterjemahan kalimat-kalimat Grahame yang kuat dan berima kurang terasa dalam buku ini. Tapi pembaca masih ikut terhanyut saat merasakan tarikan kuat dalam hati tikus tanah saat ia dan temannya, tikus air, lewat di dekat rumah lamanya. Tarikan antara kerinduan untuk pulang dan keinginan membara untuk bertualang. Yang cukup mengganggu mungkin ilustrasinya yang kurang kuat dan kurang dalam menggali karakter-karakternya. Ilustratornya juga kurang berani menampilkannya ilustrasinya dengan gayanya sendiri. Kesannya, ilustrasinya sengaja dimirip-miripkan dengan ilustrasi para pelukis di buku-buku sebelumnya terutama E. E Shepard.  Bagaimanapun juga, menterjemahkan karya sebesar ini memang menjadi beban tersendiri.


Thursday, January 06, 2011

Key Nature Trek



Alhamdulillah Key Nature Trek sudah bisa mulai jalan tahun ini. Nama Key muncul dari ide salah satu pendirinya, Elbi Ariendra. Key singkatannya jadi mirip "kunci". Padahal itu singkatan nama-nama pendirinya: K (Koen Setyawan), E (Elbi Ariendra) dan Y (Yonkie Firmansyah). Berawal dari kesukaan jalan-jalan di alam, kami memantapkan ide mendirikan tur ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Potensi wisatanya banyak yang belum tergali. Selama ini wisatawan hanya fokus ke puncak semeru. Padahal masih banyak obyek-obyek menarik lainnya yang bisa dieksplorasi, termasuk wisata budaya karena kami juga mengajak penduduk lokal untuk terlibat. Peserta tur nginap dulu di rumah penduduk dan merasakan suasana kehidupan masyarakat tengger. Potensi lainnya adalah makanan lokal atau makanan yang berbahan baku lokal. Kami akan menyajikan makanan unik selama perjalanan. Jadi bukan hanya perjalanannya dan suasana alam yang bisa dinikmati, tetapi juga makanannya. Selamat mencoba!

Lomba Menulis Artikel dan Blog tentang Perubahan Iklim


BMKG, BPPT dan ICCTF bermitra dengan Forum Badak Indonesia (FBI) dan Bloger Bogor (Blogor) menyelenggarakan Lomba Menulis Artikel dan Blog tentang Perubahan Iklim. Ada dua topik yang bisa dipilih peserta: perubahan iklim dalam keseharian dan perubahan iklim yang berkaitan dengan konservasi alam. Lomba ini diperuntukkan bagi siswa-siswi dan guru SLTA dan yang sederajad. Lomba ditutup pada tanggal 23 Januari 2011. Selamat berlomba!

Monday, October 11, 2010

Kali Mati

Tak ada air di Kali Mati. Tapi jangan khawatir ada sumber air di sumber mani. Berbekal informasi dari penduduk local, kami bergegas ngebut dari tanjakan cinta, menanjak tanpa henti membelah Cemoro Kandang dan Metigi. Puncak semeru nampak di kejauhan dan kemudian hilang ditelan pepohonan saat kami menembus hutan cemara ke Kali Mati. Ini adalah lokasi terakhir yang cukup datar sebelum ke puncak.

Tiba di Kali Mati

Pepohonan tumbuh semakin jarang dan tanpa beban carrier, kami leluasa berjalan menyusuri jalan setapak berliku. Di atas pohon terpaku papan pengumuman, Kali Mati. Selepas pandangan dari pohon itu, savanna membuka di kejauhan. Pohon-pohon metigi yang lebih kecil tumbuh menyebar. Sebuah pondok kecil dikepung tenda-tenda beraneka warna, tenda para pendaki yang siap menjenguk puncak semeru. Beberapa orang bergerombol atau memasak makanan dengan kompor kecilnya. Sementara di kejauhan, semeru muncul kembali dari kanopi pohon.

Kali Mati

Dingin menyerang. Tapi kami harus mencari air ke Sumber Mani. Berbekal botol kosong, kami menyusuri rekahan tanah ke ujung savanna. Jaraknya hanya satu kilometer dari Kalimati. Rekahan itu kian lebar dan menurun. Pepohonan tumbuh lebat di sini, tanah naik turun tak beraturan tenggelam dalam balutan batang-batang cemara. Jalan setapak itu semakin menurun hingga tibalah di celah menganga. Ketika sampai di permukaan tanah, celah itu meluncur menuju celah yang lebih lebar. Kami berada di dasar sungai…Kali Mati. Sungai kering ini adalah jalur banjir jika semeru memuntahkan endapan yang menutupi kawahnya.

Lembah yang mirip Sumber Mani

Gelap mulai merambat saat kami menyusuri permukaan kali kering yang kian melebar itu. Lebarnya cukup untuk dilalui sebuah bus besar. Di kiri kanan tebing-tebing curam bekas terkikis banjir besar. Batu-batu besar bergeletakan di permukaan tanah. Di kelokan di depan, sumber air mulai terlihat. Sumber itu kecil. Jumlahnya tiga buah yang memancarkan air sebesar pensil. Tapi kesegaran yang diberikan..luar biasa. Tanpa sumber air ini kami akan kehausan dan tak mungkin mendaki puncak tanpa persediaan air.

Magrib mulai menyapa dan kegelapan perlahan menelan lembah itu saat kami kembali dengan botol-botol dipenuhi air. Di balik pepohonan, suara muncak terdengar seperti gonggongan anjing liar. Seperti mengingatkan kami untuk mampir ke lembah itu lagi kelak.


Foto-foto: Yonkie Firmansyah dan Koen Setyawan

Thursday, October 07, 2010

Metigi

Tanjakan cinta

Menuruni tanjakan cinta menuju Cemoro Kandang

Pagi membelah gelap di Ranu Kumbolo. Kami mendaki tanjakan cinta, siap memulai perjalanan ke puncak semeru. Perjalanan masih jauh dan tanjakan ini menguji niat kami. Konon dinamakan tanjakan cinta karena orang tak boleh berlama-lama berhenti di tengah perjalanan, seperti kalau sedang menjalin cinta harus terus menatap lurus ke masa depan. Jika berhenti, pustuslah hubungan itu. Dalam kasus yang sebenarnya, berhenti di tengah tanjakan ini malah bisa menguras tenaga, dan malahan lebih sulit lagi melanjutkannya. Ya, tanjakan itu tak terlalu panjang tapi cukup terjal. Jalanan setapaknya meliuk-liuk diantara rerumputan liar. Di atasnya pepohonan tumbuh miring menyeimbangkan diri dengan kekuatan gravitasi, menahan dahan-dahannya tetap menengadah kanopinya ke langit dan menghirup sinar matahari banyak-banyak.

Tiba di puncak tanjakan, pemandangan pun berganti. Di depan mata di kaki langit, terhampar savanna luas dibatasi hutan pinus di kejauhan. Cemoro Kandang. Dan nun jauh di sana, Puncak Semeru malu-malu menampakkan dirinya dari balik kabut pagi. Kami harus turun melalui jalan setapak yang melingkar mengelilingi separuh bukit dan kemudian tiba-tiba menemukan diri kami tenggelam di dasar lembah. Alang-alang setinggi dua meter lebih memagari jalan. Hutan alang-alang kemudian itu semakin memendek dan akhirnya kaki pun memasuki di gerbang hutan cemara.

Cemoro Kandang

Hutan Cemoro Kandang menyembunyikan suara-suara burung dintara ketiak pepohonannya. Pepohonan tumbuh tak terlalu rapat. Batang-batang cemara tumbuh menjulang bagai tiang-tiang raksasa. Sebagian melengkung dan menghitam tersambar petir. Batangnya menghitam menjadi arang, tapi pohonnya tetap berdiri angkuh. Tanah di hutan ini bergelombang naik turun. Semakin lama semakin menanjak. Dataran berpasir memotong jalan setapak. Jalan bekas banjir, tapi segera hilang ditelan hutan. Naik terus ke punggung bukit, kami menemukan diri kami di batas hutan. Di kejauhan, savanna membentang kembali muncul dengan alang-alang setinggi lutut. Pepohonan besar berdaun lebat hijau tua tumbuh bergerombol. Batangnyanya yang renta termakan usia tumbuh meliuk-liuk. Permukaan kayunya tertutup lumut tebal. Daun-daun merah menyala muncul dari pucuk-pucuk daun. Buah-buah kecil mirip beri menggantung di ujung daun. Pohon Metigi. Tak heran daerah ini dinamakan Metigi juga.

Metigi dengan latar belakang Puncak Semeru

Pohon metigi

Sejenis edelweis

Kami melewati jalanan setapak menerobos pohon-pohon metigi yang tumbuh rimbun seperti gerbang alam. Ketika keluar dari kegelapan baying-bayang daunnya, pohon-pohon edelweiss mulai terlihat, muncul dari balik semak-semak. Taman Edelweis. Bunganya yang kecil bergerombol muncul di puncak pohon kerdil ini. Pohon-pohon itu tumbuh menyebar diantara savana. Di kejauhan, hutan metigi kembali muncul dengan rimbunnya. Tapi kali ini ditemani dengan pemandangan menakjubkan, puncak semeru. Puncak segitiga berwarna kelabu nampak kontras dengan hutan di kakinya. Gurat-gurat di permukaannya nampak jelas dengan satu guratan panjang yang berujung di puncaknya. Di sanalah kami akan mendaki. Bukan untuk menaklukannya, tapi mengaguminya.

Saturday, October 02, 2010

Gie dan Semeru

Batu-batuan karang muncul di atas kepala, seperti mengintp dari ketinggian. Juga seperti mengundang dan meneguhkan tekad bagi siapa saja yang ada di bawahnya. Ayo sedikit lagi puncak menyapamu! Langkah kaki masih terasa berat menginjak pasir yang lunak. Sekali injak, permukaan pasir melorot ke bawah seperti tangan-tangan kekasih yang tak rela ditinggalkan. Tapi perlahan demi perlahan, tubuh tertarik ke atas, menggapai deretan karang yang seperti memagari jalan setapak berpasir hingga sampai di puncak.

Di dataran itu, puncak tertinggi jawa, tiba-tiba kesenyapan menyeruak. Celoteh para pendaki tiba-tiba senyap. Langit kosong, dihisap kabut di kejauhan. Dataran itu seperti lukisan kanvas tanpa coretan. Hanya pasir dan batu-batuan kecil bekas lava yang terlontar dari kawah Jonggring Saloka di kejauhan, berteman bisu. Ketenangan dengan cepat merenggut, menyisakan keheningan dan takjub mencekam. Tanah itu, kerikil dan batu itu, lebih mirip permukaan Mars yang kosong. Mungkin seperti inilah perasaan manusia saat pertama kali menginjakkan kaki di bulan.

Ada bendera di sana, menandakan puncak semeru. Bendera itu tergolek menunduk takluk pada keheningan alam. Dan tak jauh dari sana, sebuah lempeng logam terpaku nyaman. Bautnya mulai berkarat dimakan cuaca dingin menggigit, tapi huruf-hurufnya masih tampil tegas. Ini papan kenangan untuk Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang dibuat oleh Indonesia Green Ranger. Ya, pejuang keadilan itu memang pernah terbaring di gunung ini. Muak dengan pemerintah yang kacau balau, kemunafikan rekan-rekan dan pengkhianatan kekuatan yang pernah dibelanya mendarah daging, Soe Hok Gie menemukan ketenangan di sini.

"Ke sanalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi

Kembali ke Pangkuan bintang-bintang…"

Friday, October 01, 2010

Hayeg-hayeg

Sekali mendaki Hayeg-hayeg sudah cukup mengenal bukit ini. Ini jalan paling cepat dari Ranu Pane ke Ranu Gumbolo. Jika lewat jalur pendakian konvensional butuh 5 jam perjalanan, jalur Hayeg-hayeg cukup 2 hingga 3 jam. Berawal dari perkenalan dengan dua pemancing lokal yang mengajak menyusuri jalur ini, kini jalur ini menjadi favorit kami. Perjalanan tidak dimulai dari pos pendakian, melainkan dari jalanan kampong. Jalan-jalan tanah yang sesekali diselingin jalanan berlapis semen itu diapit oleh kebun-kebun sayuran. Kubis, bawang putih dan cabai terong (cabang berbentuk besar pendek) terlihat selama perjalanan. Jalanan ini meliuk-liuk naik turun mengikuti kontur tanah Ranu Pane yang berbukit-bukit hingga berakhir di semak belukar. Di sini jalanan menjadi semakin kecil. Kadang-kadang jalan menurun mirip parit-parit sempit yang menenggelamkan kaki. Ilalang setinggi manusia memenuhi pinggiran jalan, berselang-seling dengan pepohonan pinus.
Menyusuri jalan babi

Jalur ini cukup menghemat waktu, tapi konsekuensinya memang lebih sulit dari jalur pendakian konvensional. Tanjakannya terasa. Di beberapa bagian kemiringannya nyaris 50-60 derajad. Napas jadi ngos-ngosan kalau tak terbiasa. Tapi pemandangannya….luar biasa. Dari puncak Hayeg-hayeg yang sempit kita bisa menengok ke belakang pemandangan Ranu Pane di kejauhan. Di depan terdapat celah sempit yang dibatasi gundukan kecil. Dari celah itu muncul bayangan Semeru di kejauhan, separuh tertelan kabut. Turun dengan jalur menghujam, tibalah di Sendang Pitu yang luas. Sebelum mencapai dataran luas yang mirip mangkuk raksasa, di kejauhan terlihar Ranu Kembang dengan alur rata yang mengarah ke Watu Rejeng (semacam karang terjal). Sendang pitu dipenuhi tanaman khas dataran tinggi, palem raksasa dan berbagai tumbuhan kerdil. Nun jauh di depan, punggung perbukitan bersemu keabuan di balik tabir kabut yang sesekali turun menelan pepohonan, merubahnya menjadi bayangan kelabu. Pohon-pohon mentigi berpucuk daun merah menyala muncul seperti cakar-cakar raksasa yang dibalut lumur janggut.

Gunung Semeru di kejauhan dilihat dari puncak Hayeg-hayeg
Ranu Kembang di kejauhan
Sumber Pitu
Gumuk Mayit alias Bukit Teletubbies
Ranu Gumbolo

Turun lagi melewati jalan babi yang dibatasi ilalang tinggi, mata kita seketika disergap savanna berbukit di kejauhan. Gumuk Mayit. Nama yang menyeramkan. Tapi bagi kami lebih mirip bukit-bukit teletubbies. Bukit-bukit berwarna hijau kuning pucat itu sangat kontras dengan latar belakang hutan yang hijau. Lekuk-lekuknya mengingatkan pada gundukan-gundukan rumah para Hobbit dari lakon Lord of The Ring. Bukit-bukit itu memanjang turun hingga ke celah diantara dua bukit besar. Di balik gundukan berkabut tipis itulah Ranu Gumbolo menunggu diam, yakin para pengunjungnya tak akan menyerah untuk menyapanya, menghirup dingin uap airnya dan menjamah airnya yang sedingin es. Kapan saja.


Foto: Yonkie Firmansyah, Ricky Fetrian dan Koen Setyawan