Wednesday, January 14, 2009

Binatang Langka Indonesia


Seri : Binatang Langka Indonesia
Penulis dan ilustrasi: Koen Setyawan
Penerbit : Elex Media Komputindo (Grup Gramedia)

Tak banyak yang tahu, Indonesia adalah negara megadisversity terbesar kedua setelah Brazil. Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati (jenis-jenis makluk hidupnya) sangat melimpah. Tetapi seperti kutukan, kekayaan itu belum melahirkan kesejahteraan bagi sebagian besar rakyatnya. Serupa juga dengan Brazil dan Kongo, dua negara megadiversity lainnya, kekayaan alam tak juga mengangkat jutaan rakyat dari jurang kemiskinan. Yang terjadi justru kekayaan alam itu yang tergerogoti semakin parah. Spesies-spesies unik bergiliran mengalami kepunahan. Ironisnya tak jarang, sebagian sama sekali belum dikenal oleh sang empunya sendiri (baca: masyarakat). Pantaslah jika Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup, mengibaratkan orang Indonesia duduk di atas peti harta karun. Tapi sayangnya tak bisa mengetahui nilai harta karunnya karena tak punya kunci untuk membukanya.

Selama puluhan tahun kita dibuai oleh tembang mendayu tentang kekayaan nusantara. Kesuburan tanahnya, kehijauan hutannya dan keindahan binatangnya. Tapi tak sering kita coba meneliti detaik-detail harta karun kita. Segalanya seolah terlambat setelah satu demi satu harta itu tercerai berai atau diangkut ke seberang lautan. Buku ini mencoba mengisahkan sekelumit remah-remah kekayaan spesies binatang khas negeri ini, lengkap dengan segala permasalahannya. Harimau, badak, orangutan, beruang madu, penyu dan gajah hanyalah pembuka dan pemicu bagi kita semua untuk mulai menelisik keunikan, keindahan, keganjilan dan kemegahan alam yang dititipkan pada kita oleh Tuhan.

Seri ini terdiri atas 3 judul buku, masing-masing bertemakan 2 jenis binatang: Harimau dan orangutan, Penyu dan Badak, serta Gajah dan Beruang Madu. Dihiasi dengan foto-foto dan ilsutrasi menarik, buku ini mengajak pembaca mengenal binatang-binatang Indonesia yang mulai langka dan terancam punah. Penulisan buku-buku ini bekerja sama dengan YABI (Yayasan Badak Indonesia), BOS (Borneo Orangutan Survival), dan WCS (Wildlife Conservation Society).

Monday, January 12, 2009

Serangga-serangga

Tersembunyi di balik bayangan dedaunan, meniti ranting kecil tanpa bersuara dan tiba-tiba terbang nyaris tak terdengar, membuat serangga dan laba-laba jarang terlihat batang hidungnya. Bukan karena memang hidungnya tak berbatang, tetapi ukurannya yang mungil menyembunyikan pesonanya. Nyaris kehadirannya bak hantu di siang bolong. Padahal banyak yang tampil bak diva, berbalut sisik gemerlak ceria. Makluk mini ini pun melahirkan kekaguman sekaligus kebencian. Larvanya tak sering dipuja, lebih sering dinista dan dihujat sebagai makluk bodoh penghancur kehijauan daun. Tetapi saat menghabiskan masa rakusnya dan bersemedi sebagai kepompong, tak banyak yang menghiraukannya. Barulah saat sang makluk berubah paripurna menjelma menjadi serangga dewasa, kekaguman pun membanjirinya. Meski semuanya harus membelalakkan mata untuk menikmati gemerlak sayap, keindahan warnanya karena tubuhnya terlalu pelit untuk ditelisik.
Bakal serangga


Capung
Laba-laba


Di antara pepohonan raksasa di Cikaniki pun, serangga dan laba-laba seolah bermain petak umpet. Menenggelamkan kemilau tubuhnya di balik bayangan urat daun lebar, melompat-lompat diantara pucuk tunas yang tersembunyi dari tatapan manusia. Atau menenun dengan tenang tanpa henti. Perlu kerja keras hanya untuk mengabadikannya. Atau tiba-tiba saja ia melintas di atas alis mata kita tanpa sempat lagi kita sadari. Mengagumkan.