Keberuntungan di Halimun

“Kita sangat beruntung,” ujar Mas Hartanto gembira. Bagaimana tidak, dalam waktu 2 hari 1 malam, kami sudah menjumpai berbagai satwa langka yang jarang ditemukan di Taman Nasional Gunung Halimun. Owa jawa, elang, surili, dan berbagai jenis burung dan serangga kami jumpai. Padahal nyaris tak ada rencana mengunjungi taman nasional ini. Ajakan Mas Hartanto yang tiba-tiba menyulut keinginan lama untuk berkunjung ke Taman Nasional Gunung Halimun. Maklum meskipun sudah sering mendengar namanya, tak sekalipun sempat mengunjunginya.
Stasiun penelitian Cikaniki

Bersama keluarga Mas Hartanto (Mbak Desi, Alta dan Qila) dan Falla, kami memulai perjalanan dari Bogor. Perjalanan lancar meskipun kami dikagetkan dengan medan jalan yang berbatu sebelum sampai di depan gerbang taman nasional. Menginap di Stasiun (tulisannya station) Penelitian Cikaniki yang asri, membuat kami tak sabar segera memulai petualangan. Perjalanan pertama adalah menyusuri canopy trail yang berakhir tepat di bawah jembatan canopy. Jembatan gantung setinggi 20 hingga 25 meter dari permukaan tanah itu dibangun di atas pepohonan menjulang yang kuat. Canopy bridge menyajikan pemandangan mengagumkan, hutan dari ketinggian. Sayangnya mekipun namanya canopy bridge, ketinggian jembatan tak benar-benar mencapai canopy. Pucuk-pucuk pepohonan masih nun jauh di atas kepala. Tapi tak ayal, pengalaman di atas pepohonan cukup mengasyikkan. Apalagi jembatan itu melintasi sungai kecil yang asri. Bunga-bunga dan tumbuhan epifit menyembul dari ketiak pohon, pemandangan yang tak mungkin disaksikan jika kita berjalan di bawahnya.

Canopy bridge

Olah Raga Dorong Mobil di Citalahap

Siangnya, kami bermobil ke kebun Teh Nirmala Sari. Perkebunan teh itu berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Halimun. Cuaca cerah tanpa halimun, dan tujuan kami adalah berburu elang. Kalau beruntung elang jawa. Sayang tak satupun elang yang nongol. Belakangan kami sadar bahwa elang harusnya dicari di sisi hutan, bukan di langit di atas perkebunan yang terbuka. Jangan khawatir, masih ada kejutan yang mengasyikkan menanti kami.

Kebun teh

Dengan mobil kami singgah di Citalahap. Kabarnya di sini ada home stay milik penduduk dan guest house. Di ujung pertigaan yang mencurigakan, kami sempat ragu-ragu memilih arah. Arah ke Citalahap berwujud jalan tanah tanpa batu. Kami memutuskan menuruni jalan menyusuri jalanan tanah. Pilihan yang salah. Benar-benar salah. Jalan itu menurun dan berakhir di ujung jalan setapak yang sempit. Di kejauhan, atap-atap rumah penduduk berjajar di depan hamparan sawah. Di seberang sana, camping ground berada. Dan katanya guest house tak jauh dari situ. Puas menikmati pemandangan, kami dihadapkan masalah baru: mobil kami tak bisa mendaki jalan tanah itu. Sebagian batu-batunya tak dipasang pada tempatnya. Mobil pun tergelincir ke tepian jalan, nyaris masuk jurang ketika dipaksa mendaki. Dorongan keras dari belakang tak membuat mobil beringsut. Tak ada pilihan, kami meminta bantuan penduduk desa. Uniknya sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak. “Laki-laki kami pada bekerja semua,” ungkap seorang ibu memberi alasan. Untungnya kekuatan “emansipasi wanita” ini mengangkat mobil kami ke jalan besar.

“Jamur bercahaya”

Sajian unik lainnya, berlangsung pada malam hari. Dengan senter di tangan, Pak Apun, pemandu taman nasional, memandu kami menyusuri canopy trail di gelapnya malam. Bukan ke canopy bridge yang memang tertutup pada malam hari, melainkan menyaksikan “jamur bersinar”. Tanpa sorotan lampu, jamur-jamur itu memang bersinar redup, berpendar hijau seperti kunang-kunang. Jamurnya sendiri sangat kecil, tumbuh di ujung-ujung potongan ranting yang jatuh di lantai hutan. Beberapa jamur tumbuh di atas akar lapuk di sela-sela lumut tebal, menjadikan mereka seperti kumpulan bintang mini. “Jamur ini banyak tumbuh di sini. Mungkin hanya tumbuh di sini,” jelas Pak Apun. “Pernah ada yang mencoba membawanya pulang dan menumbuhkannya di rumah, tapi gagal,” lanjutnya.

Jamur berfluorescen

Esoknya sajian utama menunggu. Ditemani Pak Apun yang fasih menerangkan segala hal tentang hutan, kami berangkat mencari owa jawa. Jenis gibbon langka ini hanya hidup di beberapa taman nasional di Jawa Barat. Penyebarannya tak pernah jauh. Bahkan bagi orang di luar jawa barat, kera ini nyari seperti makluk asing. Maklum, para sepupunya kebanyakan tinggal di Pulau-pulau seperti Sumatera dan Kalimantan. Hanya secuail ujung Jawa yang ditempatinya. Itu pun tak senyaman dulu lagi. Gunung Halimun adalah salah satu tempat pengungsian terakhirnya.

Berjalan menyusuri jalan babi di hutan basah Gunung Halimun, menyajikan sensasi tersendiri. Bunga-bunga mengintip dari balik akar. Pepohonan rotan meliuk dengan indahnya, terlindung dengan aman di balik duri-durinya yang gondrong. Sesekali pak Apun menghentikan langkahnya, berceloteh tentang berbagai tanaman unik yang tak akan kami temukan jika ia tak menunjukkannya. Di kelokan jalan sempit itu tersengar suara yang kami tunggu-tunggu. Suara pekikan owa!

Jamur

Pak Apun menunjukkan jari telunjuknya ke atas pepohonan di atas kepalanya. Dan pemandangan cantik terhampar di depan mata kami. Seekor owa muda, bergelantungan di cabang-cabang pepohonan, memamerkan keahlian akrobatnya yang menjadikannya primata tercepat di Asia. Lengannya yang panjang terayun gemulai. Sang oknum kerapun tanpa malu-malu beraksi, menyambut kilatan blitz kamera dengan senang hati. Suara-suara kaumnya yang lain pun terdengar. Seekor induk owa dan anaknya melintas di kejauhan. Sambil memekik, ia menyambut kami….dengan gemericik air kencingnya! Ini pertunjukkan paling spektakuler hari ini. Tapi Pak Apun tak mau kami menunggu terlalu lama untuk melangkah ke pertunjukkan lainnya.


Owa jawa

Jalan memutari hutan itu membawa kami menyeberangi sungai kecil yang berair deras. Tiba-tiba kami menemukan diri kami di belakang hamparan persawahan dan lapangan cukup luas. Camping Ground menyambut kami. Dengan sedikit jalan kaki melewati guest house, sampailah kami di jalanan tempat mobil kami mengalami musibah sehari sebelumnya. Bahkan beberapa ibu yang membantu mendorong mobil, masih sempat kami jumpai.

Sumpah ini Elang

Sungai kecil

Kali ini tak ada acara seru mendorong mobil lagi, jadi kami mendaki bukit dan menyusuri perkebunan teh. Matahari bersinar terik dan kami melintasi bukit di sisi hutan. Mata Pak Apun yang tajam menangkap elang di kejauhan. Dengan bantuan teropong, titik hitam di kejauhan pun segera menjelma menjadi sesosok burung bersayap lebar. “Elang,” ujar Pak Apun singkat. Tetapi tentu saja kami tak bisa mengetahui dari spesies apa. Dari kejauhan semua elang tampak sama. Bahkan jika Pak Apun bisa mengenalinya, itu tak berarti apa-apa bagi kami. Tiba-tiba Mbak Desi melihat seekor elang ular yang hinggap di atas pepohonan gundul di depan kami. Meski pun jaraknya cukup jauh, sosoknya yang tegap nampak menyolok. Elang ular itu (karena makanan utamanya memang ular), menatap kami dengan pongah seperti mengejek kamera kami yang sia-sia saja memelototinya. Maklum perbesaran kamera digital yang cuma paling banter 4 x optical zoom itu memang tak mungkin menangkap dengan detil lekuk-lekuk tubuhnya yang berbulu. Dengan acuh, sang elang terbang meninggalkan pohon tempatnya bertengger dan hilang di kerimbunan dedaunan.

Masih ada elang-elang lainnya yang terbang berputar-putar di awan. Kamera kami pun kembali dikecewakan. Di kamera Mas Hartanto yang 10 megapixel pun, sang elang hanya nampak seperti titik hitam di gumpalan awan raksasa. “Orang pasti tak percaya ini foto elang,” kata Mas Hartanto. “Kayaknya kita perlu kerja keras untuk meyakinkannya. Sumpah ini elang,” selorohnya.

Ucapan Selamat Tinggal Surili

Bahkan di penginapan pun, mata kami dimanja oleh kehadiran burung-burung elok yang menyambangi penginapan. Dua ekor jalak hitam, menggoda dari balik pagar dan hilang di bawah tangga. Seekor raja udang meninting menangkap ikan di kolam di belakang penginapan. Sayang kami harus kembali. Dengan petunjuk petugas taman nasional, kami memutuskan tidak mengambil rute awal, melainkan mengambil jalan ke arah Leuwiliang, Bogor, melewati perkebunan teh hingga Kecamatan Nanggung. Menjelang sore kami masih berkutat di jalan berbatu yang lengang yang membelah perkebunan. Tiba-tiba di sisi jalan, seekor monyet besar tiba-tiba menjerit kaget. “Surili!” teriakku. Buru-buru Mas Hartanto menghentikan mobilnya dan menarik kameranya. Sang surili yang ketakutan, segera memanjat pohon di tepi jalan dan hilang di balik dedaunan. Tapi beberapa ekor surili lainnya masih menyisakan keberanian untuk menengok kami sebelum memutuskan kabur. Beberapa jepretan kamera dan obyek kami pun hilang di telan hutan. Tak apa-apa. Itu kejutan lain karena sehari sebelumnya seorang petugas taman nasional menceritakan binatang serupa mengunjungi penginapan saat kami pergi ke perkebunan. Ini bonus lainnya. Mungkin semacam ucapan selamat tinggal dari para Surili. Mereka tahu, suatu saat kami pasti kembali!

Previous
Next Post »

4 comments

Click here for comments
bogorbiru
admin
12:35 PM ×

Ini baru petualangan!!. Kayak baca cerpen. Hehehe.. Mantap Mas, kapan-kapan ajak-ajak saya ya

Reply
avatar
Defidi
admin
2:08 PM ×

masih ada yg nunggu mas, macan tutul, yuuk kesana lagi

Reply
avatar
ismi
admin
2:51 PM ×

waaaahhhh... serunya... yah... sayang ismi nggak ikut... nginep sih ya... tapi seru tuh... bertualang tapi tetep nyaman... hehehehe... ketemu king of the jungle-nya nggak?? hehehehe... :p

Reply
avatar
6:39 PM ×

Kang, Muantapp reportasenya...
Mampir kang di kedaihalimun.blogspot.com dan gulasemutaren.blogspot.com

Masih tentang Halimun,

Salam,
Suparno Jumar

Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment