Museum Zoologi, Riwayatmu Kini

Sudah nonton Film Night at Museum? Ben Siller bermain sebagai penjaga museum yang saat malam tiba koleksinya menjadi hidup. Lupakan dulu aksi kocak Ben Stiller yang dikejar-kejar tulang belulang T.rex atau saat ia bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah macam Theodore Rosevelt, Columbus dan Atilla. Coba lihat bangunan musemnya. Megah, luas, dengan berbagai koleksi yang disusun atraktif. Ditambah dengan pemandu yang menarik dan informatif, tak heran museum bisa menjadi tempat tujuan wisata dan belajar. Tak beda dengan saat jalan-jalan di Mall atau di Gramedia.
Kesan itu seakan cuma mimpi dan segera lenyap saat saya menyempatkan diri mengunjungi Museum Zoologi, Bogor. Kesan pertama yang menggoda memang bangunan tua yang klasik. Tapi begitu kita masuk ke dalam ruangan, kesan tua pun kian terasa. Koleksi-koleksi di dalamnya terkesan sama tuanya dengan gedungnya sendiri. Awetan binatang tertata di dalam bilik-bilik kaca sempit seperti dijejalkan dalam ruangan sempit. Background pemandangannya mungkin sudah puluhan tahun tak diganti. Keterangan di depan bilik kaca memang cukup informatif. Tapi tanpa pemandu dan katalog yang menarik, semuanya menjadi sis-sia saja. Yang terjadi adalah, pengunjung akan dibuat bingung, apa yang mau dilihat di tempat seperti ini? Jalan-jalan 10 menit pun mungkin terasa begitu lama untuk mengamati semua koleksi museum.

Sayang sekali. Tak ada media yang mampu membuat penasaran pengunjung. Tak ada CD-ROM yang atraktif, katalog menarik, pemandu atraktif atau media lain yang membujuk pengunjung menggali lebih dalam koleksi dan aktivitas penelitian di museum. Tak ada membership dan website ciamik. Tak ada media apapun yang menghubungkan staf peneliti dan ahli dengan orang-orang yang ingin mengetahui lebih jauh kegiatan museum yang katanya legendaris itu. Yang ada hanya bangunan tua yang bersejarah yang terselip diantara bangunan tua lainnya, toko-toko sempit, pasar dan Mall.

Ketika saya menyempatkan melihat-lihat souvenirnya, kesan kaku dan kurang kreatif juga terasa. T-shirtnya memang cukup menarik tapi pilihannya terlalu sedikit. Mengapa tak mencoba bekerja sama dengan produsen T-shirt yang cukup punya penggemar di kalangan anak muda? Buku-bukunya juga terkesan terlalu ilmiah. Pengunjung biasa dijamin tak akan tertarik meliriknya. Tak heran anak-anak muda lebih suka keluyuran di Mall-mall─yang memang banyak tersebar di dekatnya─daripada di museum. Ben Stiller pun pasti ogah kalau disuruh berjaga semalaman di dalam museum.

Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
yoki
admin
4:28 AM ×

Iyah emang neh museum zoology nya harus di "permak" tapi tetep asik buat sayah...ini salah satu tempat "must see" nanti sama si kecil klo dah pulang :D....

Congrats bro yoki you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment