Anjing yang Menyanyi

Anjing itu bukan benar-benar serigala, melainkan anjing liar biasa. Seperti australia, irian tidak memiliki mamalia tak berkantung. Semua mamalia aslinya adalah mamalia berkantung mulai dari tikus berkantung, kanguru hingga kuol. Anjing papua sebenarnya anjing setengah jinak yang datang bersama manusia pertama yang menginjakkan kakinya di papua sekitar 6.000 tahun yang lalu. Anjing ini memang tak benar-benar dijinakkan alias setengah liar. Jadi belum terdomestikasi seperti anjing gembala jerman atau anjing peliharaan lainnya. Binatang ini sering tinggal di perkampungan penduduk dan mendapatkan makanan dari sisa-sisa makanan penduduk. Bisa dikatakan anjing ini selama ribuan tahun tinggal di dekat perkampungan dan hidup berdampingan dengan penduduknya. Tetapi di tempat lainnya, mereka benar-benar liar. Masyarakat papua sering menggunakan gigi-gigi anjing ini sebagai hiasan kalung dan gelang. Hingga tahun 1950-an, anjing papua adalah satu-satunya jenis anjing yang dikenal di papua. Bersama anjing telom yang ditemukan di Malaysia, anjing papua dianggap jenis anjing semi liar tertua.

Anjing papua dikenal juga sebagai anjing pegunungan karena menghuni hutan-hutan pegunungan di papua hingga ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Kelebihannya adalah suaranya yang bisa membuat bulu roma berdiri. Anjing ini bukannya menggonggong seperti layaknya anjing kampung, tetapi melolong dengan suara yang mengerikan tetapi berirama. Lolongannya bersahut-sahutan seperti lolongan serigala. Tetapi dengan nada-nada tinggi mirip nyanyian paus. Kadang-kadang suaranya mirip suara burung. Tak heran anjing ini mendapat julukan anjing penyanyi. Di alam anjing ini melolong bersama-sama dengan nada yang berbeda mirip paduan suara. Penelitian dengan menggunakan alat Sonogram menunjukkan bahwa pola suaranya sangat berbeda dengan pola suara anjing piaraan lainnya, bahkan anjing liar. Suaranya benar-benar khas. Rupanya selama ribuan tahun terisolir dari dunia luar, membuat anjing ini mengembangkan pola lolongan yang unik. Dan karena anjing ini tak pernah bertemu dengan jenis anjing lainnya, lolongannya dijamin “murni” dari pengaruh asing.

Berbeda dengan dingo di australia, anjing papua tubuhnya lebih kecil tetapi berotot dan kekar. Tingginya hingga bahunya sekitar 43 sentimeter dan beratnya hanya 11 kilogram. Kepalanya lebih panjang dan berbentuk seperti baji dan telinganya tegak seperti bunga tulip. Ekornya lebat seperti sikat. Tulang pipinya lebar dan moncongnya sempit. Giginya lebih besar daripada gigi anjing biasa. Warna tubuhnya kemerahan dengan garis-garis berwarna putih di bawah dagu, dada, dan ujung kaki dan ekornya. Kakinya pendek dan kecil serta mirip kaki kucing. Anjing ini sangat liar dan pemalu. Sekilas penampilannya mirip rubah. Sendi dan tulang belakang anjing ini sangat luwes yang membuatnya mampu bergerak dengan lincah dan cepat di hutan papua yang lebat dan berbukit-bukit terjal. Mereka sangat lincah. Mereka bisa memanjat layaknya kucing. Di dalam kandang, anjing papua bisa mencapai umur 14 tahun.

Perilaku anjing asal “negeri cenderawasih” ini juga agak berbeda. Anjing adalah binatang sosial dan dalam kelompok anjing terdapat kasta yang ketat. Anjing dominan akan mendominasi kelompok. Anjing di bawahnya akan menunjukkan derajadnya dengan mengambil sikap “merendah”. Dalam istilah dunia binatang dikenal sebagai “submission”. Biasanya sikap ini ditunjukkan dengan kepala menunduk, ekor dilengkungkan dan telinga direbahkan ke belakang. Tetapi anjing papua mempunyai sikap “tunduk” yang berbeda. Anjing kelas bawah saat berjumpa dengan “kalangan atas” akan menggerakkan telinganya ke depan dan keluar. Ini sikap yang tak dikenal di dunia serigala atau anjing manapun di dunia. Saat bermain, anjing papua lebih sering bersikap seperti melakukan pengejaran, baik pada saat berdiri diam atau bergerak. Sementara jenis anjing lainnya lebih suka membungkukkan badannya dan mengoyang ekornya. Anjing papua juga suka membuka mulutnya dan menekannya pada tengkuk dan punggung sebayanya saat bermain. Ini periaku yang tak dijumpai pada jenis anjing lainnya, kecuali pada coyote (sejenis serigala kecil dari Amerika).

Siklus suburnya juga berbeda. Dingo dan serigala hanya mengalami sekali masa subur dalam setahun, sedangkan anjing papua malah bisa mengalami dua atau lebih siklus subur. Menurut penelitian Dr. I. Lehr Brisbin, Jr pada tahun 1987, sebenarnya siklus subur anjing papua betina sama saja dengan jenis anjing lainnya. Perbedaanya, jika selama siklus itu anjing tak hamil atau gagal menemukan jodoh, dalam 4 hingga 12 minggu berikutnya ia akan memasuki siklus subur lagi sehingga masih punya kesempatan hamil. Berbeda dengan anjing piaraan, siklus anjing papua dipengaruhi oleh tanda-tanda alam seperti layaknya anjing liar. Jika selama masa subur itu sang betina berhasil kawin, prosesnya diteruskan dengan masa hamil selama 63 hari. Seekor betina bisa melahirkan 4 hingga 6 ekor bayi di dalam sarang yang dibuat di dalam rongga dalam tanah atau di bawah pohon tumbang dan semak-semak. Bayi-bayinya belum bisa melihat ketika baru dilahirkan. Tetapi bayi-bayi anjing papua tumbuh lebih cepat daripada bayi anjing biasa. Di kebun binatang, mata bayi anjing mulai terbuka pada hari ke 13-15. Namanya juga anjing liar!

Anjing papua tersebar luas di Irian, dari dataran rendah hingga dataran tinggi di Papua hingga negeri tetangganya, Papua Nugini. Di daerah pegunungan yang dingin, rambut-rambut anjing ini tumbuh tebal untuk melindunginya dari udara dingin. Anjing ini juga selincah kucing, dapat mendaki dan menjelajahi karang-karang yang terjal dan daerah terbuka dengan sama baiknya. Awalnya anjing ini sama saja dengan anjing lainnya. Mungkin karena tak ada kucing atau binatang pemangsa lainnya yang mirip kucing, anjing ini akhirnya mencoba beradaptasi mengisi kekurangan itu dengan membentuk tubuhnya laksana kucing. Apalagi makanan juga melimpah. Makanan anjing ini adalah binatang-binatang kecil. Secara alami, tak banyak binatang pemangsa di papua, kecuali kuol sehingga binatang papua terlihat sangat jinak saat pertama kali ditemukan.

Sayangnya tak banyak yang diketahui tentang kehidupan anjing papua. Anjing papua liar mungkin adalah binatang malam atau binatang crepuscular, yaitu binatang yang muncul pada senja dan dini hari ketika suasana sekitarnya remang-remang dan temaram. Buktinya anjing papua pernah diketahui makan kuskus. Kuskus adalah binatang malam. Di temaram malam, mata mereka bersinar hijau, menandakan mata mereka lebih peka terhadap cahaya redup daripada anjing biasa. Mereka juga berburu kasuari, binatang mengerat, burung dan binatang yang terperangkap di dalam jebakan milik pemburu lokal. Seperti kaum pemakan daging lainnya, mereka juga menghalalkan “daging kadaluwarsa” alias bangkai binatang. Tapi daging gratisan seperti ini memang jarang-jarang mereka temukan.

Piaraan manusia

Anjing papua baru dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan modern pada tahun 1957 saat dua ekor anjing ini ditangkap dan diekspor ke Kebun Binatang Tarongga di Sidney, Australia. Pada tahun 1976 sebuah ekspedisi dari Staatliche Museum Preussischer Kulturbestiz Berlin/ Museum fur Volkerkunde, Jerman berhasil menangkap lima ekor anjing papua dari Irian Jaya. Anjing-anjing papua ini kemudian dikirim ke The Domestic Animal Institute di Keil, Jerman. Sepasang keturunannya dikirimkan ke Kebun Binatang Sedgwick County, Kansas, Amerika Serikat pada tahun 1987. Walaupun pejantannya gagal menghasilkan keturunan, salah seekor anjing betina, Olga, menghasilkan beberapa ekor anak dari hasil perkawinannya dengan anjing papua jantan keturunan anjing serupa dari Kebun Binatang Taronga.

Di tahun yang sama seekor jantan, Darkie, yang berasal dari Suaka Baiyer River di Gunung Hagen, Papua dan dan beberapa ekor betina yang berasal Kebun Binatang Taronga dikirim ke Kanada. Darkie tak berhasil mendapatkan pasangan anjing liar di habitat aslinya. Sayangnya anjing papua yang tinggal di kebun binatang Kanada itu gagal berkembang biak. Pada tahun 1994, Darkie dikirimkan ke The Savannah River Ecology Laboratory di Aiken, Georgia. Di tempat itu sebelumnya Dr. I. Lehr Brisbin, Jr, berhasil membiakkan anjing Carolina, jenis anjing setengah liar amerika yang juga mantan piaraan manusia kuno. Meskipun telah berumur 14 tahun, Darkie berhasil mendapatkan keturunan dengan Dinkum, seekor betina keturunan Olga dan pejantan dari Taronga. Hingga tahun 1995 terdapat 300 ekor anjing papua yang berasal dari delapan pasang anjing papua hasil tangkapan liar. 150 ekor diantaranya kini berada di Amerika Serikat.

Di luar habitat aslinya, anjing ini bisa jinak, meskipun tak bisa sejinak anjing biasa. Mereka sukar dilatih dan jika ada kesempatan akan meloloskan diri dari sangkarnya. Jika berhasil keluar dari kandangnya, mereka bukannya berkeliaran di kota seperti kebanyakkan anjing kampung, tetapi malahan mendekati semak-semak untuk berburu binatang. Namanya juga anjing hutan! Mereka juga masih galak dan mengancam anjing manapun yang mendekatinya terutama jika jenis kelaminnya sama, seolah mengatakan….hati-hati, aku anjing hutan lho! Bukan anjing kampung murahan macam kamu!

Sebagai anjing piaraan, anjing papua juga merepotkan. Bayangkan mereka bisa menggali tanah, melompat tinggi dan memanjat pagar. Suara lolongannya bisa menakutkan tetangga kanan kiri dan sifat-sifat liarnya masih terus dibawanya sekalipun mereka dibesarkan di lingkungan yang “beradab”. Jadi siap-siaplah bersusah susah payah memeliharanya dan jangan berharap menjadikannya sejinak anjing biasa!

Kerabat dingo

Anjing papua dulunya diberi nama ilmiah Canis halstromi untuk menghormati penelitinya, Sir Edward Halistrom, dan dianggap sebagai spesies baru. Pada tahun 1969, namanya diganti menjadi Canis familiaris dingo. Canis familiaris adalah nama yang diberikan untuk anjing piaraan. Sedangkan dingo adalah nama anjing liar dari Australia. Anjing papua dianggap sebagai kerabat dingo, yang dipercaya sebagai keturunan anjing piaraan manusia pertama yang menghuni Papua dan Australia. Pergantian nama itu ternyata membawa kerugian. Banyak pihak yang semual memeliharanya dengan bersemangat, mulai berhenti membiakkannya. Apa bedanya dengan memelihara anjing biasa? Mungkin begitu kata mereka. Lembaga donor penelitian binatang liar juga tak berminat membiayai usaha penelitian dan pelestarian jenis anjing yang status taksonominya masih menjadi tanda tanya ini.

Untunglah masih ada beberapa kebun binatang yang bersedia meneruskan program pelestariannya karena keunikan yang dimiliki anjing ini. Mereka sadar, jika anjing ini benar-benar punah, maka mereka akan kehilangan informasi tentang evolusi adaptasi dan asal muasal anjing peliharaan. Tanpa dukungan dari banyak pihak, pelestarian anjing papua terus berjalan. Salah satu lembaga yang dibentuk untuk mendukungnya adalah The New Guinea Singing Dog Conservation Society. Lembaga ini memberikan dukungan bagi siapa saja yang ingin meneliti anjing papua, mengumpulkan informasi dan pemeliharaan anjing papua. Lembaga ini juga bekerja sama dengan para pemilik anjing papua untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan cara mengirimkan sampel darah dan lainnya sebagai bahan analisis DNA, catatan kesehatan, rekaman perilaku dan suara lolongan. Lembaga lainnya seperti United Kennel Club, sejak tahun 1996 berusaha mempromosikan anjing ini ke khalayak ramai dan memfasilitasi pemeliharaannya. Hasilnya, semakin banyak anjing papua yang “dirumahkan” kembali. Namun, bedanya, lembaga tersebut membantu menjaga “kemurnian” anjing langka ini dengan memberikan informasi tentang anjing-anjing lainnya sehingga “trah aslinya” tak tercampur dengan anjing piaraan biasa. Dengan metode ini, pelestarian anjing papua bisa berjalan dengan lebih murah karena melibatkan banyak orang dan masyarakat pun berlatih untuk terbiasa mendengarkan suara lolongannya yang menarik.

Bagaimana pun juga, anjing papua bukan sembarang anjing karena telah terpisah dari jenis anjing lainnya selama 4000 hingga 5000 tahun. Inilah jenis ras anjing tertua di dunia. Sayangnya populasi di habitat aslinya tak diketahui pasti. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, anjing piaraan lainnya mulai masuk ke papua. Banyak anjing liar papua yang kawin silang dengan anjing kampung ini. Habitat alamnya juga banyak yang rusak akibat penebangan hutan tanpa henti. Anjing liar terakhir terlihat pada tahun 1991. Tetapi suara lolongannya hingga kini masih sering terdengar bersahut-sahutan. Pada tahun 1996, James McIntyre, seorang peneliti, masih menemukan jejak dan mendengar suara lolongannya seakan menunjukkan bahwa mereka masih jadi penguasa hutan. Hauuu!!!!!!

Previous
Next Post »

2 comments

Click here for comments
Anonymous
admin
9:44 PM ×

Artikel yg sangat menarik. Semoga mereka tdk punah atau dimusnahkan akibat kebodohan & ketamakan manusia.

salam lingkungan!

Reply
avatar
11:46 PM ×

Semoga nasib anjing ini tidak menyusul harimau jawa dan harimau bali yg sudah lebih dulu punah. Salam konservasi

Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment