Elang Bondol

Seekor elang tiba-tiba menukik ke dalam air. Padahal selama beberapa saat sebelumnya, sang elang hanya melayang-layang di angkasa, berputar-putar di atas sungai. Dengan tubuh melesat seperti roket sang elang enjatuhkan dirinya. Bunuh diri? Bukan. Sesaat sebelum tubuhnya menghajar permukaan air sungai yang keruh, sang elang seolah mengerem gerakannya, sayap dan ekornya terentang. Cakar-cakarnya terjulur ke depan. Seperti menyendok air, cakarnya masuk ke dalam air. Dalam beberapa saat, seekor ikan sudah dicengkeramnya. Dan elang pun terbang menjauhi sungai, siap menyantap makanan favoritnya.

Itulah sekilas gambaran perburuan elang bondol (Haliastur indus). Elang ini menghuni pantai, mangrove atau tepian sungai. Di India, burung ini dianggap suci. Tapi di sini, lain ceritanya karena reputasinya sebagai pencoleng anak ayam. Mana ada binatang suci suka mencuri? Tapi ia masih punya reputasi lain yang membanggakan, sebagai penangkap ikan! Elang bondol memang berburu ikan, mamalia dan burung. Bangkai pun tak diharamkannya sehingga dia berperan juga sebagai tukang sampah alami.

Sayang polusi dan hilangnya hutan penopang sarangnya, membuatnya kian langka. Kini populasinya di Pulau Jawa semakin langka. Padahal penyebarannya sangat luas, meliputi Asia dan Australia. Ironisnya DKI Jakarta membanggakannya sebagai maskotnya. Simbolisasi saja tak akan menyelamatkan populasinya. Dan kita pun semakin jarang menyaksikan aksinya yang menakjubkan.

Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
Iwan
admin
1:34 PM ×

Postingan yang menarik.

Congrats bro Iwan you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment