Macan Dahan


Sumber: WWF 

Orang Cina menamainya macan mint karena totol-totol di sekujur tubuhny mirip daun mint. Di Malaysia dan Indonesia, kucing ini dijuluki harimau atau macan dahan karena kelihaiannya memanjat pohon. Meskipun tampangnya mirip macan tutul, kucing besar ini bukanlah sepupu raja pohon bertotol itu.

Ribuan tahun yang lalu, di muka bumi pernah hidup kucing bergigi pedang. Saking besarnya taringnya, sampai menonjol keluar dari rahangnya dan tak muat dalam mulutnya. Kucing tongos purba itu memang telah lama hilang dari peredaran, namun masih ada jenis kucing lainnya yang tak kalah besar gigi taringnya. Pemegang rekor gigi taring terbesar ternyata bukan singa atau harimau yang kesohor itu. Pemenangnya tak lain tak bukan adalah macan dahan. Taring macan dahan adalah yang terbesar diantara bangsa kucing yang masih hidup saat ini. Panjangnya saja masing-masing 2 inci! Tak heran macan ini dijuluki kucing bergigi pedang baru. 
Taring besar menjadi senjata andalan sang kucing. Senjata mematikan itu dimanfaatkannya dengan optimal oleh sang empunya untuk melumpuhkan mangsa-mangsanya. Terkamannya sama mematikannya di permukaan tanah maupun dari atas pepohonan. Kucing ini memang penghuni pepohonan dan lihai berlompatan di atas pepohonan tinggi. Ia menghuni hutan-hutan lebat di Asia Tenggara, Nepal, Taiwan, Cina Selatan, dan Indocina. Di masa lalu, binatang ini pun sempat mendiami Pulau Jawa.

Sayangnya, selain taringnya, penampilan macan dahan jauh dari kesan mendebarkan dibandingkan pendahulunya, kucing bergigi pedang. Macan dahan (Neofelis nebulosa) bahkan jauh lebih ramping dan mungil dibandingkan macan tutul atau jaguar yang nota bene adalah raja pepohonan hutan tropis. Beratnya hanya 25 kilogram! Besarnya sama dengan anjing kampung biasa. Namun, punya bobot ringan ternyata menguntungkan. Karena tubuhnya yang mungil itulah, macan dahan dapat bergerak lincah di atas pepohonan. Ia bahkan dapat turun dari pohon dengan kepala di bawah atau bergelantungan di dahan pohon, macam pemain sirkus saja. 
Ekornya yang panjang membuat keseimbangan tubuhnya bak penari balet di atas pepohonan. Belum lagi kaki-kakinya yang pendek dan berkuku tajam membuatnya semakin percaya diri berkeliaran di atas pepohonan. Sendi-sendi pergelangan kakinya pun luwes dan mendukung gerakannya. Dengan segala keahliannya, ia siap berburu kancil, monyet, babi hutan, muncak, sambar, kadal dan burung. Kalau mangsanya tak bisa diterkam di tanah, masih ada kesempatan menangkapnya di atas pohon. Pokoknya, komplit deh!

Macan dahan biasa menghuni hutan pantai, rawa-rawa hingga pegunungan. Seringkali ia dijumpai di hutan hingga ketinggian 3000 meter di atas permukaan air laut. Di Kalimantan, merekalah predator terbesar. Maklum, di Pulau raksasa itu memang tak ada harimau atau macan tutul. Akhirnya, kucing besar inilah yang naik peringkat menjadi pemangsa terbesar. 
Mereka menghuni hutan lebat yang basah dan sedapat mungkin menjauhi pemukiman manusia. Binatang ini juga emoh dengan tempat terbuka atau hutan berpohon jarang. Namanya juga macan dahan! Mereka dulu dianggap suka keluyuran di waktu malam saja. Tapi belakangan, para peneliti sering memergoki sang macan pohon kelayapan di siang hari bolong. Rupanya sang macan sama nyamannya mencari nafkah di siang hari maupun malam hari. Toh di hutan tropis yang gelap, siang dan malam nyaris tak ada bedanya.

Kucing unik
Macan dahan diteliti pertama kali pada tahun 1821 oleh seorang naturalis berkebangsaan Inggris, Edward Griffith. Binatang ini tampangnya seperti persilangan antara kucing besar (Panthera) dan kecil (Felis). Tubuhnya sekilas seperti kucing rumahan biasa, tetapi kepala dan giginya mirip golongan harimau dan macan. Ia memang bisa mengaum, tetapi tak bisa sekeras kaum kucing besar. Maka para ahli pun menamainya Neofelis alias felis (kucing kecil) baru. Para ahli percaya binatang ini adalah penghubung evolusi antara kucing besar dan kecil. Kucing ini pun dimasukkan dalam genusnya sendiri. Nama latinnya menjadi Neofelis nebulosa. Sayangnya, orang Eropa tetap saja memanggilnya macan tutul alias clouded leopard. Clouded atau awan diberikan padanya karena totol-totolnya yang tersebar mirip awan. 
 Tak banyak yang tahu kehidupan sang macan berawan. Sifatnya yang pemalu dan habitatnya yang tersembunyi, membuat banyak orang tak tahu kehidupannya. Semuanya serba misterius. Kemungkinan binatang ini hidup soliter seperti kebanyakan jenis kucing lainnya. Macan jantan dan betina hanya bertemu saat musim kawin. Kemungkinan sang jantan segera meninggalkan betinanya setelah kawin. Di kebun binatang, perkawinan sering berakhir dengan kematian karena sang jantan cenderung melukai betinanya. Di alam, kejadian tragis itu bisa dihindari karena sang jantan bisa meninggalkan jauh-jauh pasangannya kapan saja dia mau. Di kebun binatang, karena keterbatasan ruangan, sang jantan tak bisa seenaknya nyelonong pergi. Jadilah sang betina menjadi korban. Ruangan terbatas itu pula mungkin yang menyebabkan macan dahan emoh kawin juga. 

Segera setelah pasangannya pergi, sang macan betina bisa mengandung dengan tenang. Induk macan mengandung selama 86 hingga 95 hari. Ia dapat melahirkan hingga 5 ekor bayi. Ketika dilahirkan, masing-masing beratnya hanya 150 hingga 280 gram. Induknya mengasuh mereka di dalam rongga pohon yang hangat. Bayi-bayi mungil ini dilahirkan dalam keadaan buta. Mereka mulai membuka matanya setelah berumur 12 hari. Berbeda dengan induknya, rambut mereka berwarna abu-abu kekuningan. Totol-totolnya yang mirip daun mint itu baru nongol saat mereka berumur 6 bulan. 
Anak-anak macan dahan tumbuh dengan cepat. Mereka tergantung pada ASI induknya selama 5 bulan. Mereka mulai aktif berkeliaran setelah berumur 5 minggu dan mulai makan makanan kasar setelah berumur 10,5 minggu. Setelah menyerap ilmu berburu dari sang induk, macan kecil ini baru benar-benar mandiri di umur 6 bulan dan siap menjadi raja pohon yang baru. Anak macan jantan tumbuh lebih cepat daripada macan betina. Begitu mereka meninggalkan rumah, sang induk pun siap memiliki anak baru. Demikianlah siklus alam itu kembali berulang.

Semakin langka
Di habitat alamnya, macan dahan nyaris tak punya musuh alami. Mungkin hanya ular sanca dan harimau yang mampu menyudutkannya. Itu pun seringkali bisa dihindarinya dengan mudah karena ia lebih suka hidup di pepohonan tinggi. Namun, bahkan predator kalimantan terbesar pun tak berkutik oleh ulah manusia. Mereka diburu kulit dan tulangnya. Kulitnya yang indah membuat pemburu ngiler dan ketagihan. Hiasan totol-totol yang awalnya digunakannya untuk berkamuflase saat mengendap-endap mendekati mangsa, dianggap oleh manusia sebagai hiasan mewah. Bukan itu saja. Tulang dan giginya dipercaya mempunyai tuah berkasiat dan dapat dipakai sebagai ramuan obat mujarab. Maka, jadilah sang macan sasaran pemburu liar. 
Permintaan kulit dan tulangnya melambung tinggi. Belum lagi yang menginginkannya sebagai binatang klangenan, hidup atau mati. Sialnya lagi, pembukaan hutan baik legal apalagi ilegal telah ikut mendesak sang macan pohon semakin jauh ke pedalaman. Penebangan liar, pembukaan hutan untuk kebun karet dan kelapa sawit yang semakin tak terkendali membuat hidup macan dahan semakin merana. Dalam sehari, ratusan hektar hutan habitat sang macan pohon berubah menjadi padang terbuka yang gersang. Nyaris tak menyisakan satu batang pohon pun untuk didiami penghuni hutan. Ketika hutan hilang, macan dahan juga kesulitan mendapatkan mangsa. Penebangan pohon juga menghilangkan habitatnya. Apalah artinya macan dahan tanpa pepohonan? 
Di seluruh dunia, populasi macan dahan merosot tajam. Bahkan macan dahan formosa (Taiwan) dianggap sudah punah karena lama tak kelihatan batang hidungnya. Kemajuan pembangunan ternyata harus dibayar mahal dengan hilangnya salah satu simbol alam liar. Di Kalimantan, populasi macan dahan juga mengkhawatirkan, tak lebih dari 5000 hingga 11000 ekor. Sedangkan sepupunya di Sumatera tinggal 3000 hingga 7000 ekor. Untunglah sebelum terlambat, tiga pemerintah: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusallam sepakat melindungi salah satu kekayaan alam ini dengan melindungi wilayah hutan seluas 220.000 kilometer persegi yang mencakup wilayah tiga negara itu. Mereka menamainya “Jantung Kalimantan” (The Heart of Borneo). Siapa tahu, wilayah ini menjadi pengungsian terakhir bagi sang macan pemanjat pohon dan binatang-binatang langka Kalimantan lainnya.

Spesies baru
 Dulu semua macan dahan dianggap satu spesies. Memang ada beberapa sub-spesies, Neofelis nebulosa brachyurus dari Taiwan, Neofelis nebulosa diardi dari Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan, Neofelis nebulosa macrosceloides dari Nepal dan Myanmar, dan Neofelis nebulosa nebulosa dari Cina Selatan dan Indocina. Namun, penelitian terbaru menunjukkan macan dahan dari Sumatera dan Kalimantan ternyata berbeda spesies. 
Sekilas memang tampang macan dahan asia dan kalimantan tak jauh berbeda, namun dilihat dari dekat baru ketahuan perbedaannya. Warna rubuhnya lebih gelap dan totolnya lebih kecil dan banyak. Garis dipunggungnya juga dobel. Seperti dimuat dalam situs WWF News Center, menurut analisis kromosom yang dilakukan para ahli di US National Cancer Institute, macan dahan Sumatera dan Kalimantan telah terpisah dari sepupunya di daratan Asia sejak 1,4 juta tahun yang lalu! Macan dahan Asia dan macan dahan Sumatera dan kalimantan sama berbedanya dengan harimau atau singa. “Tes DNA menunjukkan 40 perbedaan di antara macan dahan asia dan kalimantan,” ucap Dr. Stephen O’Brien, ketua tim peneliti.
Kini macan dahan kita ini sudah sah punya nama ilmiah baru, Neofelis diardi. Diardi diambil dari nama naturalis asal Perancis, Piere Medard Diard. Sayangnya pencanangan nama baru ini tak juga mampu mengerem laju kepunahan sang macan pohon. Para pemburu tak peduli dengan status baru sang kucing langka. Mereka merayakannya dengan cara berbeda. Apalagi kalau bukan memburunya tanpa pandang bulu…karena memang bulunya sama-sama mahal. Tak pelak, nama baru tak akan ada artinya sama sekali tanpa strategi pelestarian baru. Jika kelak kita gagal menyelamatkannya, sang macan dahan bisa jadi cuma menyandang nama barunya sesaat saja karena keburu punah. Nah! 


Previous
Next Post »

2 comments

Click here for comments
Idroez
admin
10:35 PM ×

Ringan tapi komprehensif, terima kasih atas tulisannya. Saya salah seorang yang mengagumi makhluk ini. Awal tahun ini, saya menghadiri workshop di Bangkok mengenai species ini. Mudah-mudahan apa yang anda sampaikan dapat menjadi pemicu para pembuat kebijakan, masyarakat dan komunitas pecinta satwa liar lebih memperhatikan kelestarian satwa unik ini.
Salam.

Reply
avatar
Post a Comment
Thanks for your comment